
PEMERHATI HURUF: Jimmy Ofisia di depan Pasar Pabean. Huruf-huruf apda nama pasar itu bergaya art deco.
Daya tarik kota lama bukan melulu arsitektur dan ornamen bangunannya. Jimmy Ofisia justru tertarik mengamati tipografi atau ilmu tentang karakter huruf di kota lama di Surabaya Utara. Bagi dia, kawasan itu menyimpan sejarah perjalanan desain grafis Indonesia.
FARID S. MAULANA
PADA era kolonial, kawasan Surabaya Utara, terutama daerah Kembang Jepun, Ampel, dan Jembatan Merah, merupakan sentral perdagangan yang cukup ramai. Berbagai etnis menetap di sana. Arab, Tionghoa, Eropa, serta Jawa membaur.
Hingga kini, jejak kebesaran itu masih terasa. Gedung bergaya Eropa, berornamen Arab, dan berarsitektur Tiongkok tetap berdiri. Namun, ada satu artefak sejarah yang penting. Yakni, tipografi.
Di kota lama itu, seni cetak dan tata letak huruf pada masa lalu masih tertinggal jejaknya. Terutama pada papan nama bangunan, nomor bangunan, hingga bentuk-bentuk pariwara.
Itulah yang menarik Jimmy Ofisia, seorang desainer grafis. Dia selalu tergelitik untuk meneliti kawasan tersebut. Dia pun ditunjuk menjadi pemandu tur tipografi dalam acara Pasang Surut (Surabaya Utara) yang digagas C2O Library and Collabtive.
Acara tersebut berisi workshop, pameran, hingga pergelaran. Tujuannya, mengembangkan pengetahuan generasi muda metropolis terhadap kotanya.
’’Sehari di sana, saya sudah menemukan berbagai bentuk tipografi yang menarik. Seperti museum kecil dari sejarah panjang desain grafis di Indonesia,’’ katanya.
Menurut Jimmy, kawasan kota lama memiliki era tipografi yang ciamik. Yakni, pada era 1890–1990. Satu abad. Era ketika industri periklanan sedang berkembang.
Era sebelum masuknya tipografi versi digital. ’’Jadi, masih orisinal buatan tangan manusia. Bukan komputer,’’ tambahnya.
Jimmy menjelaskan, ada tiga masa tipografi yang bertahan di kota lama. Yakni, masa art nouveau, art deco, dan setelah art deco. Ada pula tipografi Tiongkok dan Arab pada papan nama yang digunakan sampai sekarang.
Itu ditunjukkan Jimmy sembari mengajak Jawa Pos berkeliling. Era pertama adalah art nouveau, seni dekoratif yang populer pada 1890–1910. Bentuk huruf dekoratif dan melengkung menjadi idola.
Di era tersebut, kerajinan memahat batu untuk dekorasi bangunan sangat digemari. Tidak salah, beberapa bangunan di kawasan kota lama yang memiliki berbagai ornamen lawas di tembok-temboknya masih menggunakan gaya art nouveau.
Misalnya, salah satu rumah yang berada tepat di persimpangan Jalan Sasak dan Jalan Pegirian. Rumah itu memang sudah terlihat kuno dari depan. Lumut menempel di beberapa dindingnya. Catnya yang putih terlihat pudar. Kusam.
Nah, yang menunjukkan rumah tersebut berusia tua adalah ornamen yang terletak di atasnya. Dibuat dengan teknik memahat hingga membentuk pola lengkungan. Khas era art nouveau.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022