Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 September 2023 | 19.55 WIB

Di Tibet, Arahmaiani Feisal Ikut Melestarikan ”Menara Air” Asia

MENJAGA SUMBER AIR: Arahmaiani Feisal (dua dari kanan) mengutamakan pembentukan komunitas untuk memperbaikin lingkungan bersama masyarakat Tibet. - Image

MENJAGA SUMBER AIR: Arahmaiani Feisal (dua dari kanan) mengutamakan pembentukan komunitas untuk memperbaikin lingkungan bersama masyarakat Tibet.

Seperti di Sini, Beternak Banyak Ditinggalkan Anak Muda

Perjalanan ke Tibet lebih dari sekadar membawa Arahmaiani Feisal melakukan aktivitas penelitian spiritual. Hampir 14 tahun bergerak untuk ikut menjaga sumber air Asia.

ILHAM WANCOKO, Jakarta

---

GLETSER Tibet, gletser di dataran tinggi yang dikenal sebagai ”menara air” Asia, penuh dengan ancaman. Es yang mencair dan bisa mengakibatkan banjir hingga diprediksi kering pada 2030.

Padahal, gletser itu yang mengairi danau-danau dan menjadi sumber air dari sejumlah sungai utama di Asia. Sungai Yangtze dan Kuning di Tiongkok. Sungai Mekong yang menghidupi Vietnam, Laos, Thailand, Kamboja, dan Myanmar.

Juga, Sungai Gangga dan Brahmaputra di India serta Sungai Indus yang melintasi Pakistan. Perkiraannya, ”menara air” itu menyuplai air untuk 2 miliar orang.

Karena itu, Arahmaiani Feisal, seorang seniman cum aktivis, ingin gletser Tibet terus terjaga. Awalnya, Arahmaiani meneliti ajaran Buddhisme hingga tiba di Tibet pada 2010. Dia memang seorang muslim. Namun, dia mencoba menengahi keyakinan Buddha, Hindu, dan bahkan animisme. Di Tibet, lebih dari 9 ribu kilometer dari Indonesia, Arahmaiani justru menemukan ajaran Borobudur. ”Saya menyebutnya begitu,” ujarnya kepada Jawa Pos pekan lalu.

Ajaran Borobudur itu tertulis lengkap di buku-buku milik biksu Tibet. Pada abad ke-11 hingga ke-12, banyak biksu dari Tibet dan India yang belajar di Borobudur. Salah satu yang membawa ajaran Borobudur tersebut adalah biksu dari Tibet bernama Atisha Dipamkara Srijnana.

Belajar pula dari Muaro Jambi –kini Jambi– yang saat itu menjadi semacam universitas agama Buddha. Muaro Jambi malah jauh lebih tua. Sudah menjadi pusat agama Buddha sejak abad ke-7. ”Di Tibet ini, ajarannya tertata dalam buku yang masih lengkap. Tapi, di Indonesia hanya bisa dibaca melalui dinding-dinding Borobudur,” paparnya.

Arahmaiani diminta biksu di Tibet untuk belajar kepada biksu di India. Dari seorang biksu di India inilah, Arahmaiani menemukan ajaran Bhinneka Tunggal Ika. ”Ajaran ini dibawa dari Borobudur ke India, tapi hanya sukses di Nusantara saat itu,” jelasnya.

Bhinneka Tunggal Ika ini yang membuat Nusantara saat itu mampu damai antaragama Buddha, Hindu, dan animisme. Bhinneka Tunggal Ika itulah yang ingin diajarkan ke India pada abad ke-11 dan ke-12. ”Karena sejarahnya, saat Siddharta Gautama mangkat, terjadi pembunuhan massal dan bentrokan antara agama Hindu dan Buddha di sana,” ujarnya.

Setelah belajar kepada biksu di India, Arahmaiani juga mempraktikkan ajaran Bodhisattva. Dengan hasrat kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan pula, perempuan kelahiran Bandung itu memutuskan untuk bergerak melindungi gletser Tibet. ”Cara melindunginya dengan komunitas,” katanya.

Dalam ajaran Buddha, lanjut dia, membentuk komunal atau komunitas dalam melepaskan penderitaan manusia merupakan sebuah kewajiban. Karena itu, bersama komunitas biksu di Tibet, perjuangan menjaga alam itu dimulai. ”Awalnya, memang sangat berat,” ungkapnya.

Targetnya, mulai menghidupkan pertanian organik, mengelola sampah daur ulang, menghidupkan peternakan nomaden, menanam pohon, hingga mengelola sumber air.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore