
BUAH KEGIGIHAN: Tatiana Lisdasari dalam ajang speech contest di @america, Jakarta, belum lama ini. (DOKUMENTASI TATIANA LISDASARI)
Berkuliah, mengikuti kursus daring, dan mengambil bootcamp teknologi informasi dilakukan Tatiana Lisdasari untuk bangkit dari depresi. Deborah Tech yang dia dirikan secara konsisten menyumbangkan 10 persen dari pendapatan perusahaan kepada institusi keagamaan dan panti asuhan.
DINDA JUWITA, Jakarta
---
SEPULUH tahun lalu, Tatiana Lisdasari seperti harus dipaksa menerima kenyataan bahwa dia sebatas membantu orang tua berjualan di warung. Padahal, perempuan asal Jember, Jawa Timur, itu sadar betul passion-nya tidak di situ.
Dia lantas memutuskan merantau ke Surabaya untuk menjajal sejumlah pekerjaan, namun gagal. Ia lantas berpindah ke Malang.
’’Dapat pekerjaan jadi sales pinjaman online (pinjol), tapi jujur berat sekali harus keliling dari satu kampus ke kampus lain untuk menawarkan pinjaman ke mahasiswa,’’ ujarnya saat berbincang dengan Jawa Pos pada Jumat (24/4).
Bekerja di bidang yang tidak dia cintai, berada dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan, dan tanpa ruang untuk berkembang turut memicu depresi. Orang tua mendukung penuh. Berkonsultasi dengan ahli juga dia lakukan.
”Saat itu diharuskan mengonsumsi obat selama beberapa tahun untuk meredam depresi. I had no choice (saya tak punya pilihan),’’ imbuhnya.
Di tengah kemelut itu, sejenak ia memutuskan menarik diri dari dunia kerja dan mulai bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya dia inginkan? Roda terus berputar, perlahan dan berliku, sampai akhirnya Tatiana mulai menemukan titik balik.
Selain keluarga, perempuan yang berulang tahun setiap 27 Juni itu banyak dibantu komunitas di gereja. Ia jadi tak pernah merasa sendirian.
Mata Tatiana juga jadi kian terbuka, dia terus berusaha memperbaiki diri. ’’Saya ikut berbagai pelatihan sampai dapat 88 sertifikasi,’’ tuturnya.
Ia mengambil kursus daring, mengikuti bootcamp teknologi informasi, sempat menempuh studi di universitas, dan memperluas jejaring profesional. Bahkan, saat menginjak usia 29 tahun, dia tak merasa gengsi untuk mulai bekerja sebagai pekerja magang di perusahaan asing.
Saat diterima magang di sebuah perusahaan artificial intelligence (AI), ia sekaligus belajar bagaimana cara kerja sebuah perusahaan start-up. Bersama tim, ia beralih membuat sebuah agency website application.
Mereka mulai mendapatkan berbagai klien untuk proyek custom website dan aplikasi mobile seluler. Klien-kliennya juga lintas negara, terutama dari Taiwan, Singapura, dan Malaysia.
Perlahan tapi pasti, kemampuan Tatiana pun terus berkembang. Beberapa kesempatan baru turut menghampiri. ’’Saya lantas ditawari untuk menjadi CEO di perusahaan asing, memimpin orang-orang dari berbagai negara. Saya memimpin perusahaan melakukan penetrasi pasar di Indonesia dengan bekerja secara remote,’’ katanya.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
MUI Minta Pelaku dan Pengkampanye LGBTQ Bisa Dipidana, Lebih Berat dari Pasal Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Skor Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026: The Tartan Army Bisa Menang Besar!
