
Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan saat media gathering di Bali, Jumat (3/7) malam. (Istimewa)
JawaPos.com - Indonesia sedang berdiri di persimpangan jalan perubahan struktural. Narasi tentang bonus demografi yang selama ini diagung-agungkan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional mulai mendekati titik jenuhnya.
Fenomena baru yang tidak bisa dihindari kini tengah mengetuk pintu peradaban kita: penuaan penduduk (ageing population). Seiring melandainya angka kelahiran total dan meningkatnya usia harapan hidup, potret struktur populasi kita bergeser secara signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), proporsi penduduk lansia (60 tahun ke atas) di Indonesia telah menembus angka 11,97 persen. Sesuai standar demografi global, suatu negara resmi dikategorikan berstruktur tua jika rasionya melampaui ambang batas psikologis 10 persen.
Baca Juga:4 Zodiak yang Mampu Membuat Anda Lebih Peka, Berani Terbuka Mengenai Kerentanan di Dalam Diri
Tren menua ini dipicu oleh peningkatan Angka Harapan Hidup (UHH) nasional yang kini menyentuh rata-rata 74,15 tahun, berbanding terbalik dengan angka kelahiran total (Total Fertility Rate) yang melandai ke angka 2,13. Pergeseran ini otomatis menaikkan rasio ketergantungan lansia.
Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan mengatakan, jika Indonesia tetap terjebak dalam pola pikir konvensional, fenomena ini akan memicu penyusutan produktivitas akibat menciutnya angkatan kerja muda.
"Kaum senior tidak boleh lagi diposisikan secara pasif sebagai beban ketergantungan ekonomi atau beban fiskal negara. Sebaliknya, momentum transisi ini merupakan fajar baru bagi lahirnya kekuatan ekonomi baru yang dikenal sebagai silver economy atau ekonomi perak," kata Panji kepada wartawan di Bali, Jumat (3/7).
Baca Juga:4 Zodiak yang Mampu Membuat Anda Lebih Peka, Berani Terbuka Mengenai Kerentanan di Dalam Diri
Menurut Panji, ekonomi perak berkembang bukan lagi sekadar wacana utopis, melainkan ceruk pasar riil yang sangat masif. Pasalnya, kelompok penduduk berusia di atas 50 tahun saat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dari generasi pendahulunya.
"Lansia modern cenderung lebih mandiri, memiliki akumulasi aset finansial yang mapan hasil tabungan masa mudanya, serta adaptif terhadap teknologi," ungkap Panji.
Di sisi lain, kondisi ini memicu ledakan ekosistem bisnis baru di sektor domestik. Di antaranya muncul industri teknologi pendukung kesehatan, layanan pariwisata ramah lansia, produk nutrisi spesifik, hingga inovasi hunian terpadu.
"Dinamika pasar baru ini terbukti membuka keran investasi segar dan menghidupkan sektor UMKM yang jeli menangkap kebutuhan populasi senior. Jumlah mereka diproyeksikan terus merangkak naik menuju estimasi 65,82 juta jiwa pada momentum Indonesia Emas 2045," kata dia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022