
Alfian Rizal/Jawa Pos
Idul Fitri di Indonesia identik dengan silaturahmi antarkeluarga dan penganan yang beraneka ragam. Namun, penganan yang mungkin diakrabi satu, dua, bahkan tiga dekade lalu belum tentu ada lagi di meja-meja ketika Lebaran hadir.
---
”AKAR kelapa? Sudah jarang itu,” jawab salah seorang jurnalis asal Jakarta, Titi Fajriyah, Kamis lalu (6/5) via WhatsApp saat ditanya apa saja penganan Lebaran yang sering disantapnya. ”Kalaupun ada, mak gue beli di orang lain, bukan bikin sendiri,” lanjut Titi.
Akar kelapa merupakan penganan berbahan dasar tepung beras ketan, tepung beras putih, mentega, telur, gula putih, santen, dan minyak sayur.
Ibu Aisah, warga Betawi yang tinggal di Bekasi, merupakan salah seorang yang masih setia membuat akar kelapa saat Lebaran. Mpok Isah –sapaan Ibu Aisah– mengatakan, membuat penganan akar kelapa ini sama sekali tak ribet. ”Cukup ada adonan langsung digoreng. Akar kelapa beda dengan kue-kue lain yang mesti dijemur atau dipanggang pakai oven,” kata Mpok Isah.
Perempuan berusia 59 tahun itu menegaskan, di tengah gempuran penganan Lebaran kiwari seperti nastar, putri salju, atau kastengel, dirinya bersikukuh masih membuat akar kelapa. ”Ini resep khas Betawi dan cita rasanya khusus dibandingkan kue kering saat ini,” tutur Mpok Isah.
Menurut Mpok Isah, selain akar kelapa, jajanan Lebaran khas Betawi seperti dodol, tape uli, dan sayur godog sudah jarang hadir di meja-meja keluarga Betawi saat Lebaran. Akar kelapa, dodol, tape uli, atau sayur godog kini digantikan nastar, putri salju, atau kastengel.
Menurut anggota Lembaga Kebudayaan Betawi Fadjriah Nurdiarsih, penyebab sebuah makanan bisa punah, langka, atau minimal sulit dicari adalah satu hal. ”Ilmu” atau resep itu tak diwariskan.
Perempuan yang akrab disapa Mpok Iyah itu mengatakan, kuliner sama seperti bahasa. Jika tidak diturunkan atau diwariskan, lama-lama punah. Dia mencontohkan ibu yang jago masak kuliner khas daerah tertentu. Kemudian, si ibu tidak mewariskan resep tersebut ke anak atau keluarganya. Maka, tinggal menunggu waktu saja kuliner itu bakal punah.
Nah, alasan berikutnya kuliner bisa punah, menurut penelitian Mpok Iyah, adalah peminatnya yang tidak ada atau berkurang. Dia mencontohkan kuliner khas Betawi seperti gabus pucung yang saat ini sulit ditemukan. ”Saya harus ke Pondok Cabe atau Bekasi untuk menyantap gabus pucung,” kata Mpok Iyah.
Contoh lainnya kerak telur. ”Menurut anak-anak saat ini rasa kerak telur itu aneh sehingga mereka kurang meminati. Kalau seperti ini, lama-kelamaan penjual kerak telur juga akan punah,” tuturnya.
Mpok Iyah melanjutkan, penjual jajanan tradisional seharusnya kaya ide, berani berkreasi, dan berinovasi. ”Pokoknya jangan takut bereksperimen,” lanjut Mpok Iyah. Dia mencontohkan, nastar yang sejatinya kue dari Eropa atau Belanda sampai sekarang masih digemari karena inovasi rasa-rasanya. Selain nastar orisinal, ada yang dipadu dengan keju, cokelat, dan lainnya.
Faktor terakhir yang membuat kuliner punah adalah sulitnya mencari bahan-bahan pembuatannya. Mpok Iyah mencontohkan sayur babanci yang notabene ikon kuliner Lebaran bagi warga Betawi.
Sayur babanci membutuhkan 21 jenis bahan atau bumbu. Di antaranya, kedaung, botor, tai angin, lempuyang, temu manga, dan bangle. ”Untuk menemukan bahan-bahan itu, kita tidak bisa datang ke satu pasar saja. Harus berkunjung ke beberapa pasar di Jakarta agar bisa menemukan semua pembuat sayur babanci itu,” tutur Mpok Iyah.
Bukan hanya akar kelapa, tape uli, dan sayur godog yang statusnya terancam ”punah” di Betawi. Hidangan khas Lebaran ataupun Ramadan di daerah lain seperti topak ladeh (Bangkalan), bubur gandum kambing, kue pluntiran (Surabaya), jemunak (Muntilan), dan jenang selok (Banyuwangi) juga makin sedikit yang mengetahui keberadaannya.
Penjual jemunak (kue yang dibuat dari ketela pohon dan beras ketan, lalu ditaburi kelapa serut dan kuah gula jawa cair) di Muntilan saat ini tidaklah banyak. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yang paling terkenal Mbah Mulyodinomo di Gunungpring, Muntilan, Magelang.
Usaha jemunak Mbah Mul –sapaan Mbah Mulyodinomo– kini dijalankan sang anak, Ponisih. Sebagaimana halnya ilmu memasak, sepengetahuan Ponisih, ibunya juga meneruskan usaha jemunak dari neneknya.
Salah seorang pelanggan jemunak Mbah Mul yang ditemui Jawa Pos mengatakan, kini tak banyak lagi pedagang keliling jemunak yang ditemukan di kampung-kampung Muntilan. Produsen jemunak yang konsisten tinggallah Mbah Mul.
Saking langkanya, kalau menginginkan jemunak, Raja Jogja Ngarsa Dalem Sultan Hamengkubuwono X harus menyuruh abdi dalem ke Muntilan untuk membeli jemunak Mbah Mul. Padahal, jarak Keraton Jogja ke Gunungpring, Muntilan, sekitar 30 kilometer.
”Kalau bukan ngarsa dalem yang dawuh bikin jemunak di luar Ramadan, saya tidak akan membuatnya,” kata Mbah Mul. Rasa jemunak mirip getuk, tapi lebih kenyal.
Sementara itu, di Banyuwangi, banyak anak muda yang tak mengenal jajanan Lebaran seperti gule menthok, jenang tape, jenang selok, jajan bakaran, opak gambir, klemben, mawar-mawaran, semprit, kuping gajah, jajan tegog, jajan sato cengkaruk, manisan polo, manisan kondur, manisan cerme, manisan asem, dan bagiak. Menurut Lika Rusdiana, remaja asal Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, kue Lebaran kesukaannya sejak kecil adalah astor dan wafer. Sebab, dua jajanan itu paling gampang ditemukan di meja setiap rumah saat Idul Fitri. ’’Kalau kue kering kuno, mungkin sudah jarang ditaruh di meja Lebaran. Jadi, saya tidak tahu,” ujar alumnus MAN Banyuwangi tersebut.
---
KUE PLUNTIRAN
Photo
(Alfian Rizal/Jawa Pos)
Bahan
Tepung terigu, Tepung tapioka, Telur ayam kampung dan horn, Santan, Mentega, Vanili, Gula, Garam, Daun pandan
Cara Membuat
Photo
BUBUR GANDUM KAMBING (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)
Bahan
Photo
TOPAK LADEH (ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)
Bahan
Topak (Ketupat), Beras, Janur
Ladeh

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
