Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Mei 2022 | 14.57 WIB

Makna Takbir di Hari Raya Idul Fitri

Sejumlah masyarakat merayakan malam takbir dikawansan petamburan, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (14/6/). Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut Idulfitri 1 Syawal 1439 H yang jatuh pada Jumat (15/6). - Image

Sejumlah masyarakat merayakan malam takbir dikawansan petamburan, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (14/6/). Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut Idulfitri 1 Syawal 1439 H yang jatuh pada Jumat (15/6).

JawaPos.com - Hari Raya Idul Fitri telah tiba ditandai dengan kumandang takbir dimana-mana. Musala dan masjid di sekitar kita dapat dipastikan mengumandangkan takbir mengagungkan kebesaran Allah.

Takbir di hari raya hukumnya sunnah. Bukan hanya dilakukan oleh orang yang berada di masjid atau di musala, kita yang berada di rumah atau dimana pun juga disunnahkan mengumandangkan takbir di hari raya.

"Mengumandangkan takbir hukumnya sunnah. Kan rujukannya Alquran, walitukmilul iddata welitukabbirullah. Itu dalilnya takbir. Setelah menyempurnakan puasa Ramadan, maka bertakbirlah kepada Allah. Rujukan lainnya juga dari hadits Nabi," kata Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ), Dr. Abdul Muid Nawawi kepada JawaPos.com, beberapa waktu lalu.

Mengumandangkan takbir di hari raya Idul Fitri sunnah dilakukan sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan sampai dilaksanakannya salat Idul Fitri. Abdul Muid Nawawi menyatakan, takbir di hari raya Idul Fitri secara durasi lebih pendek dibandingkan dengan takbir di hari raya Idul Adha.

"Kalau Idul Adha takbirnya lebih panjang bisa sampai hari ketiga setelah lebaran. Kalau Idul Fitri nggak. Tetap sunnah dan dapat pahala kalau takbir setelah salat Id, tapi dalam momentum lebaran sudah nggak," katanya.

Abdul Muid Nawawi juga mengungkap makna takbir di hari lebaran. Menurutnya takbir dikumandangkan setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh bertujuan untuk mengagungkan Tuhan sekaligus ungkapan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Di dalam takbir didapat pengakuan dari kita bahwa hanya Allah Yang Maha Besar.

"Takbir itu seharusnya membesarkan Allah dan menganggap kita butiran debu, tidak ada apa apanya. Takbir itu mengkerdilkam diri," tuturnya.

Dia pun melayangkan kritikan kepada orang yang suka bertakbir namun salah dalam memposisikan diri karena menganggap kita besar. Padahal hakikat Yang Besar hanya lah Allah SWT.

"Takbir itu berhubungan dengan takabur. Asal katanya sama dari kabura. Jadi yang berhak takabur hanya Allah. Kenapa terjadi konflik padahal kita mengumandangkan takbir ? Karena kita merasa besar, merasa angkuh," paparnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore