
Halaman depan Masjid Jami Kali Pasir, Tangerang. (Rian Alfianto/JawaPos.com).
JawaPos.com - Ramadhan selalu menjadi momen istimewa untuk memperdalam spiritualitas sekaligus menelusuri jejak sejarah Islam di Nusantara. Di tengah iruk-pikuk Kota Tangerang, berdiri sebuah masjid tua yang menjadi saksi perjalanan panjang dakwah Islam dan harmoni antarumat beragama: Masjid Jami Kali Pasir.
Berlokasi di Kelurahan Sukasari, masjid ini diakui sebagai salah satu masjid tertua di Kota Tangerang. Usianya telah melampaui ratusan tahun, dengan riwayat berdiri yang menyimpan beberapa versi sejarah.
Namun satu hal yang pasti, Masjid Jami Kali Pasir bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda penting perjalanan Islam di wilayah pesisir barat Pulau Jawa.
Jejak Awal Abad ke-15 di Tepi Cisadane
Sejarah Masjid Jami Kali Pasir kerap ditarik hingga awal abad ke-15. Berdasarkan sejumlah sumber lokal yang diwariskan cerita turun temurun, pada tahun 1412, seorang tokoh bernama Ki Tengger Jati dari Kerajaan Galuh mendirikan sebuah gubuk kecil untuk beribadah di tepi Sungai Cisadane.
Lokasi ini sangat strategis karena menjadi jalur perlintasan para pedagang dan pelancong. Gubuk sederhana tersebut lambat laun berkembang.
Pada 1445, disebutkan seorang ulama asal Persia, Syekh Abdul Jalil, pernah singgah dan berdakwah di kawasan ini. Kehadiran para pendatang dan penyebar agama membuat tempat ibadah tersebut semakin ramai termasuk juga berperan dalam pembangunan struktur masjid dari yang semula hanya dari kayu ke material yang lebih solid hingga akhirnya pada 1576, bangunan itu diperbesar menjadi tempat ibadah permanen.
Sungai Cisadane sendiri menjadi saksi pertemuan berbagai budaya, Sunda, Melayu, Arab, hingga Tionghoa. Di sinilah Islam tumbuh melalui interaksi damai, perdagangan, dan hubungan sosial yang erat.
Peran Tumenggung Pamit Wijaya
Versi sejarah lain menyebutkan bahwa Masjid Jami Kali Pasir resmi berdiri sebagai masjid jami’ sekitar tahun 1700. Sosok sentral dalam periode ini adalah Tumenggung Pamit Wijaya, yang juga dikenal sebagai Ki Tenger Jati.
Ia disebut berasal dari Kahuripan, Bogor, dan melakukan perjalanan syiar dari Kesultanan Cirebon menuju Banten. Dalam perjalanan dakwahnya itulah ia mendirikan masjid sebagai pusat penyebaran Islam di Tangerang.
Menurut Rudy Rahendra dari Seksi Cagar Budaya Masjid Kalipasir, perjalanan sejarah masjid ini memang memiliki beberapa versi, tetapi semuanya menunjukkan peran penting kawasan tersebut sebagai pusat syiar Islam.
“Masjid ini menjadi salah satu titik awal perkembangan Islam di Tangerang. Baik versi abad ke-15 maupun abad ke-18, semuanya menunjukkan kesinambungan dakwah di tempat yang sama,” ujar Rudy ditemui JawaPos.com di masjid tersebut.
Pengelolaan masjid kemudian diteruskan oleh keturunannya, Raden Bagus Uning Wiradilaga pada 1712. Hingga kini, makam Tumenggung Pamit Wijaya berada di kompleks pemakaman masjid dan sering diziarahi masyarakat, terutama saat Ramadhan dan menjelang hari-hari besar Islam.
Berdiri di Tengah Permukiman Tionghoa

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
