JawaPos Radar | Iklan Jitu

Disinformasi Pembayaran Denda Tilang di Exit Tol Sumo

22 November 2018, 20:42:52 WIB
Disinformasi Pembayaran Denda Tilang di Exit Tol Sumo
Tol Surabaya-Mojokerto. (Umar Wirahadi/ Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com- Beredar kabar bahwa pengendara yang melintas di Tol Surabaya Mojokerto (Sumo) dan Surabaya-Malang dengan kecepatan diatas 100 km/jam, akan didenda Rp 150 ribu. Kabar tersebut tersebar secara berantai melalui WhatsApp.

’Tol Mjkt - Sby, & Sby - Mlg  Melebihi kec 100 km / jam. didenda 150 rb.byr nya selagi kluar gerbang tol.

Hati2, n Waspadalah Sobat2 smuanya’.

Pesan berantai tersebut sempat membuat keder para pengendara yang kerap keluar masuk tol. Lalu, bagaimana penjelasan sebenarnya dari kabar tersebut?  

Kabar tersebut sebenarnya bukan hoax. Ditlantas Polda Jatim memang akan menilang kendaraan yang melebihi batas kecepatan maksimal di atas 100 km/ jam.

Namun ada beberapa disinformasi dari pesan tersebut. Pertama adalah tol Surabaya-Malang. Sejauh ini, proses pembangunan tol tersebut masih dalam tahap finishing. Akses tol belum mencapai Malang, melainkan baru sampai Pandaan, Pasuruan.

Kedua adalah denda tilang yang dibayarkan setelah kendaraan keluar gerbang tol. Pesan itu jelas keliru.

Kasat III PJR Polda Jatim AKP Lamuji menjelaskan, pembayaran denda tilang tidak dilakukan di exit tol. Pengendara yang melanggar, wajib meminta membayar denda melalui transfer BRIVA (Bank BRI). Itupun, jika pelanggar memilih untuk tidak menghadiri sidang dan memilih sidang di tempat.

"Kalau sudah transfer, lalu struknya diserahkan ke polisi. Setelah itu, barang buktinya (SIM atau STNK yang disita saat kena tilang) bisa diambil," jelasnya.

Lebih jauh Lamuji menjelaskan soal penindakan pelanggaran di ruas tol Jawa Timur. Dia membenarkan memang pengendara bisa ditilang di tol.

Petugas PJR yang punya wewenang menilang pengendara di dalam tol. Mereka dapat mengetahui kecepatan kendaraan saat melaju, menggunakan speed gun saat berpatroli dengan mobil preman di jalan tol. 

Namun, memang tidak setiap hari petugas PJR berpatroli. Pengendara yang melanggar akan ditilang saat polisi menggelar operasi Over Speed Law Enforcement (OSLE). 

Operasi itu dilaksanakan dengan pertimbangan waktu (jam) dan cuaca. Karena, memerlukan situasi dan kondisi yang terang agar speed gun dapat menangkap citra plat nomer kendaraan. 

Kemudian, polisi juga mempertimbangan kan wilayah tol. Petugas PJR biasanya tidak pernah menggelar operasi OSLE pada satu tol saja. "Jadi, jamnya juga nggak tentu. Yang jelas, nggak pernah operasi saat malam hari," tambah Lamuji. 

Kemudian soal denda Rp 150 ribu yang dikenakan pengendara yang ketahuan melanggar batas kecepatan, di exit tol. Lamuji juga membenarkan hal tersebut. Dia menjelaskan, tiap daerah berbeda nominal denda tilangnya. Perbedaan tersebut berdasarkan pertimbangan pengadilan di daerah masing. "Masing-masing wilayah punya kewenangan masing-masing. Tergantung, keputusan pengadilan. Denda maksimal adalah sebesar Rp 500 ribu,” ungkap mantan Kasatlantas Polres Ngawi tersebut. 

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : (HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up