
Aktivitas Gunung Anak Krakatau
JawaPos.com - Dari kacamata sains, fenomena tsunami yang terjadi di Selat Sunda merupakan hal baru. Sehingga cukup menantang untuk segera diteliti. Kejadian itu ke depan diharapkan bisa membuka tabir baru terkait kondisi vulkanologi gunung berapi, khususnya gunung yang ada di lautan.
Hingga saat ini belum ada kepastian soal penyebab naiknya air laut yang menyapu pesisir pantai Selat Sunda beberapa hari lalu itu.
Data yang dimiliki barulah hasil citra satelit. Terlihat ada sebagian blok dari kawasan Gunung Anak Krakatau yang longsor.
Namun, dengan data yang ada saat ini, setidaknya ada dua kesimpulan awal yang bisa didapatkan. Pertama, tsunami tidak disebabkan langsung oleh kegiatan erupsi gunung. Kedua, yang mengakibatkan tsunami adalah longsor endapan dari tubuh Gunung Anak Krakatau.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa bisa longsor? Seperti kita ketahui, selama ini, sudah enam bulan berjalan, aktivitas Gunung Anak Krakatau terpantau aktif. Nyaris setiap hari. Hasilnya, ada ratusan, bahkan ribuan, letusan dengan tipe melemparkan material ke atas. Material itu kemudian diturunkan di sekitar gunung dan lama-lama menjadi endapan.
Endapan hasil erupsi itu sendiri menunjukkan ketidakstabilan. Apalagi, dalam kesehariannya, posisinya dipengaruhi berbagai kondisi. Mulai endapan yang belum merekat, intensitas hujan yang cukup tinggi, hingga adanya getaran yang disebabkan kegiatan letusan gunung itu sendiri. Sehingga bisa longsor dan mengakibatkan gelombang air laut.
Karena itu, jika dugaan awal tersebut benar, potensi adanya longsoran lanjutan sangat terbuka. Terlebih jika jumlah endapan yang tersisa masih cukup besar. Namun, untuk memastikan apakah masih ada atau tidaknya sisa endapan, dibutuhkan penelitian yang langsung ke lapangan.
Tapi, penelitian lapangan belum bisa dilakukan saat ini. Sebab, ada banyak kendala yang merintangi. Mulai cuaca dan gelombang laut yang tidak stabil hingga aktivitas lontaran material Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung. Karena itu, di tengah situasi yang belum pasti ini, yang bisa dilakukan adalah upaya antisipasi. Dalam hal ini, masyarakat bersama semua stakeholder harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Namun, kewaspadaan tersebut harus tetap proporsional. Sehingga tidak mudah terkena informasi bohong.
Kami bersama BMKG akan terus memantau setiap menit dan berupaya mengantisipasi semaksimal mungkin. Jika kondisi sudah stabil, kami bersama lembaga terkait akan langsung melakukan penelitian. Dengan penelitian yang terukur, diharapkan kemungkinan terburuk bisa diminimalkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022