Apem, jajanan tradisional yang selalu hadir dalam megengan
JawaPos.com - Menjelang Ramadhan, masyarakat Jawa biasanya mengadakan tradisi selamatan yang dikenal sebagai megengan. Dalam tradisi ini, setiap individu Muslim atau masyarakat Jawa memasak dan menyajikan makanan dalam kotak atau keranjang.
Menu yang biasanya disajikan meliputi ayam atau lauk lainnya, mi atau bihun, sayur, dan beberapa tambahan lainnya.
Makanan yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada tetangga di sekitar rumah. Ada juga yang membawa kotak makanan ke masjid untuk disantap bersama warga kampung setempat, disertai dengan doa bersama agar diberi kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Dalam serangkaian tradisi ini, kue apem selalu menjadi bagian tak terpisahkan. Kue putih yang terbuat dari tepung beras, tape atau ragi, dan santan ini selalu tersedia dalam setiap tradisi masyarakat Jawa.
Dikutip dari JawaPos.com, Isa Wahyudi, seorang Pemerhati Budaya dari Malang, menjelaskan bahwa tradisi megengan dan apeman hanya ditemui di Jawa.
"Tradisi sambut Ramadhan dengan megengan ini hanya ada di Jawa," kata dia, kepada JawaPos.com, Rabu (16/5).
Menurutnya, megengan memiliki makna menahan dalam bahasa Jawa, yang mencerminkan pentingnya untuk menahan hawa nafsu, amarah, dan tidak hanya menahan lapar selama berpuasa.
Sementara itu, kue apem memiliki makna maaf atau ampunan. Kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab, ‘afuwwun’ yang berarti ampunan. Makna simbolisnya adalah sebagai permohonan maaf kepada tetangga.
"Makna simbolisnya, meminta maaf kepada tetangga," kata Pemangku Kampung Budaya Polowijen (KBP), Malang itu.
Ki Demang, seorang pemangku budaya dari Malang, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1450-an pada masa Sunan Kalijaga.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran Islam tentang saling memaafkan kepada masyarakat, yang kemudian berbaur dengan budaya setempat.
Pada saat itu, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat kue yang terbuat dari campuran beras ketan putih, santan, gula, dan garam.
Kemudian, setelah kue matang, Kanjeng Sunan meminta semua warga untuk berkumpul dan duduk bersama, lalu menjelaskan makna dari makanan tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022