
Ilustrasi Rabu Abu. (Freepik)
JawaPos.com – Hari Rabu (5/3) lalu merupakan peringatan dan perayaan Rabu Abu bagi umat Katolik. Rabu Abu adalah hari di mana umat Kristiani menerima abu pada dahi yang berasal dari daun palma kering yang telah diberkati.
Abu yang dioleskan pada dahi berbentuk salib memiliki makna pertobatan dan menyimbolkan bahwa manusia berasal dari debu tanah.
“Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil, sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu (Kejadian 3:19),” dikutip (5/3) dari Instagram @beritaumat.
Kutipan Injil dalam Kitab Suci Katolik memaknai bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu, yang kemudian dismbolkan dengan pemberian abu.
Rabu Abu juga menjadi simbol hari pertama dalam masa prapaskah di mana umat melakukan masa pertobatan selama 40 hari seperti dalam ajaran Gereja.
Pertobatan ini juga salah satunya adalah dengan dilakukannya puasa dan pantang sebagai bentuk matiraga atau pengorbanan.
Puasa dan pantang dalam agama Katolik atau Kristiani memiliki caranya tersendiri, berbeda dengan umat Muslim.
Berikut aturan puasa dan pantang berdasarkan hukum Keuskupan wilayah Jawa tahun 2016, dikutip (5/3) dari Instagram Uskup Agung Semarang @mgr.robertus.rubiyatmoko
Puasa dalam agama Katolik dilakukan pada hari Rabu Abu 5 Maret 2025 dan Jumat Agung (Sengsara Tuhan Yesus) 18 April 2025.
Berpuasa dalam Kristiani adalah dengan makan kenyang hanya sekali dalam sehari dan yang wajib melakukan adalah umur 18–60 tahun.
Kemudian, untuk pantang dilakukan pada Rabu Abu, Jumat Agung, dan setiap hari Jumat selama 40 hari masa prapaskah. Berpantang yang dimaksudkan adalah tidak makan daging atau makanan lain yang disukai pada hari-hari tersebut.
Umat yang wajib melakukan pantang adalah mereka yang berusia 14 tahun ke atas tanpa ada batasan usia.
Dalam ajaran Gereja Katolik, umat tidak hanya diwajibkan untuk berpuasa dan berpantang sebagai bentuk pertobatan dan mati raga (pengorbanan), tetapi juga beramal.
Beramal kasih atau berderma sebagai bentuk kasih dan kepedulian terhadap mereka yang berkekurangan.
Umat Katolik melakukan derma atau amal kasih umumnya adalah dengan memasukkan amal pada kotak aksi puasa pembangunan (APP) yang telah disiapkan Gereja.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
