
Grup idola K-pop SEVENTEEN. Sumber foto: X.com / @pledis_17
JawaPos.com – Grup idola K-pop SEVENTEEN menyampaikan pidatonya di forum UNESCO berbicara pesan solidaritas dan harapan untuk kaum muda di seluruh dunia.
Dilansir JawaPos.com dari Yonhapnews, Rabu (15/11), grup yang beranggotakan 13 orang itu menghadiri sesi khusus 13TH UNESCO Youth Forum, sebuah acara dua tahunan yang diadakan bersamaan dengan Majelis Umum UNESCO di Paris.
Pelantun SUPER tersebut pun menjadi grup idola K-pop pertama yang diundang untuk berpidato di keseluruhan sesi pertemuan penting UNESCO.
SEVENTEEN hadir tanpa pemimpin grup S.Coups yang sedang hiatus lantaran cedera lutut, menaiki podium aula utama kantor pusat UNESCO disambut tepuk tangan meriah dari para penonton.
Dalam pidato, produser grup Woozi mengungkapkan banyak orang yang mengatakan debut bersama 12 rekan lainnya terlalu banyak dan sulit untuk akur.
“Banyak juga yang percaya bahwa usia rata-rata kami, yaitu 17 tahun pada saat kami debut, membuat kami terlalu muda sehingga kami tidak dapat akur dan kami akan kesulitan menemukan dan membangun suara asli kami,” kata dia.
Meski begitu, mereka semua tak putus asa dan selalu memberikan penampilan terbaik di hadapan para penggemar.
Lebih lanjut Woozi menambahkan grupnya memiliki kekuatan masing dalam segi vokal, penampilan, dan hip-hop. Dari situ para personel SEVENTEEN bersatu membentuk identitas grup yang hanya dimiliki oleh mereka.
“Pendekatan unik grup kami dalam mengajar dan belajar dari satu sama lain dan bersenang-senang saat kami melakukannya, adalah cara khusus kami untuk berkembang,” jelas pria kelahiran tahun 1996 itu.
Sementara itu salah satu personel yang berasal dari Tiongkok, Jun berkata dalam bahasa ibunya bahwa SEVENTEEN adalah meski tak sempurna, mereka tim terbaik.
“Ada kesulitan saat ini dan ketidakpastian di masa depan, namun kami yakin kami bisa mengatasi segalanya jika kita semua bersama-sama,” ucap Jun.
Di sisi lain, berbicara rasa solidaritas, SEVENTEEN pernah menyumbangkan 13 ekor kambing kepada anak-anak di Tanzania saat ulang tahun debut grup pertama pada tahun 2016.
Mingyu mengatakan kegiatan berbagi ini menjadi begitu penting lantaran dapat membantu memberikan harapan masa depan kepada anak-anak yang membutuhkan.
Tak hanya itu, Joshua yang memiliki darah campuran Korea dan Amerika itu memperkenalkan kampanye Going Together. Kampanye tersebut baru diluncurkan oleh SEVENTEEN tahun lalu bersama Komisi Nasional Korea untuk UNESCO (KNCU) guna mempromosikan pentingnya pendidikan.
“Hal ini memberi kami peluang untuk memperluas kampanye Going Together ke seluruh dunia. Ke depan, kami berencana meningkatkan infrastruktur pendidikan di negara-negara kurang berkembang dengan membangun sekolah,” tuturnya dalam bahasa Inggris.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
