Pada periode Kamakura, saat Mongol dipimpin oleh Kubilai Khan yang gencar untuk menguasai kawasan Asia, dia mengirim utusan untuk berdiskusi dengan Jepang. Dilansir dari World History pada Rabu (19/7), diskusi yang direncanakan oleh Kubilai Khan semata-mata untuk memanfaatkan Jepang guna mengambil sumber daya yang berada di negeri Sakura tersebut.
Berdasarkan cerita Marco Polo, di Jepang terkenal dengan negara Asia Timur yang memiliki tanah emas. Hal tersebut yang menjadi motif Kubilai untuk berhubungan diplomatik dan berbagai intrik di belakangnya.
Kemudian, Kubilai Khan mengirim surat ke Jepang pada tahun 1268 M. Dirinya mengakui kepemimpinan pada periode Kamakura dengan sebutan 'raja Jepang' dan mengungkapkan keinginannya untuk menjalin hubungan persahabatan.
Namun hubungan diplomasi yang dibangun Kubilai Khan memberikan syarat pembayaran upeti kepada pengadilan Mongol dengan ancaman terselubung menggunakan senjata. Pihak Mongol juga mengirimkan utusan dari Tiongkok yang bernama Zhao Liang Bi pada tahun 1270 M untuk tinggal di Jepang selama setahun demi meyakinkan persahabatan kedua negara tersebut.
Jepang secara tegas menolak dengan cara tidak menggubris utusan Mongol. Hal tersebut dilakukan oleh shogun Hojo Tokimune (memerintah sejak 1268-1284 M), Hojo memiliki keyakinan dapat menghadapi ancaman dari daratan Asia.
Penolakan tersebut menjadi pemicu kemarahan Kubilai Khan, sehingga ia mengumpulkan sekitar 800 hingga 900 kapal untuk dikirim ke Jepang pada 1274 M.
Kapal-kapal Mongol tersebut membawa pasukan sekitar 16.600 hingga 40.000 orang, yang terdiri dari orang-orang Mongol, pasukan wajib militer dari Tiongkok, dan Korea.
Wilayah pertama yang menjadi sasaran Mongol adalah Kepulauan Tsushima dan Iki pada 5 dan 13 November 1274. Para pasukan Kubilai Khan kemudian menjarah wilayah tersebut.
Pasukan yang berada di Tsushima melakukan perlawanan kepada Mongol yang dipimpin oleh So Sukekuni. Sedangkan pasukan di Iki dipimpin oleh Taira Kagetaka.
Perlawanan pasukan Tsushima dan Iki dipaksa mundur oleh pasukan Mongol hingga ke kastil Hinotsume karena tidak adanya bantuan dari daratan Jepang.
Selanjutnya, pasukan Mongol menuju teluk Hakata dengan terlebih dahulu singgah di Pulau Takashima dan semenanjung Matsuura. Mongol berhasil mendarat pada 19 November 1274.
Perairan Teluk Hakata yang terlindungi dan dangkal membuat pasukan Jepang yakin bahwa komandan Mongol memilih tempat tersebut untuk menyerang.
Total kekuatan yang berada pada Teluk Hakata sekitar 4.000 dan 6.000 orang, berbanding terbalik dengan pasukan Mongol yang akan menyerang.
Pertarungan pertama dapat dimenangkan oleh pasukan Mongol karena kekuatan mereka lebih unggul dari Jepang, dan mereka dibekali oleh senjata yang lebih mutakhir.
Tak hanya menyerang sekali saja, pasukan Kubilai juga melakukan gempuran kedua yang terdiri dari 4.400 kapal dengan pasukan sekitar 100.000 orang campuran prajurit Mongol, Tiongkok, dan Korea.
Penyerangan tersebut dilakukan pada 23 Juni 1281 yang menargetkan teluk Hakata di Kyushu. Namun pada invasi kali ini, kekuatan Mongol terpecah.
Pertahanan di Hakata dapat memberikan perlawanan yang cukup sengit kepada Mongol. Pasukan Jepang memanfaatkan benteng di pinggir pantai dan menyerang Mongol secara langsung tanpa sempat turun dari kapal.
Jepang dapat memukul mundur pasukan Mongol hingga ke Kepulauan Shiga dan Noki, lalu ke Pulau Iki. Saat mundur, pasukan Jepang menyerang secara bertubi-tubi menggunakan kapal.
Merasa geram, Kubilai Khan mengirim bala bantuan dari Tiongkok Selatan dengan jumlah pasukan sekitar 40.000 orang. Kemudian, pasukan Mongol berkumpul untuk kembali melakukan serangan.
Pasukan Mongol bergerak menuju timur untuk menyerang Takashima pada 12 Agustus 1281. Pertempuran terjadi selama beberapa minggu dan cukup sengit.
Malapetaka bagi Mongol terjadi pada 14 Agustus 1281, karena cuaca yang tidak menentu. Jepang terbantu oleh kehadiran angin topan yang seketika menghancurkan sebagian pasukan Mongol.
Angin badai yang menghantam sebagian pasukan Mongol tersebut diberi nama kamikaze atau 'dewa angin'. Itu dikarenakan pasukan Jepang menganggap hal tersebut merupakan tanggapan atas seruan mereka kepada Hachiman, dewa perang kepercayaan Shinto.