
Ilustrasi suku Satere-Mawé. (Trapidvisor)
JawaPos.com - Di jantung hutan Amazon, suku Satere-Mawé mempertahankan sebuah tradisi ekstrem yang telah diwariskan selama berabad-abad yaitu ritual sarung tangan semut api. Tradisi ini bukan sekadar ujian fisik, melainkan simbol transisi menuju kedewasaan dan ketahanan spiritual bagi para pemuda suku tersebut.
Ritual ini melibatkan semut peluru atau bullet ant, serangga yang dikenal memiliki sengatan paling menyakitkan di dunia. Semut-semut tersebut dikumpulkan dari hutan, lalu dibuat tak sadar menggunakan ramuan alami sebelum dijahit ke dalam sarung tangan dari daun, dengan posisi sengat menghadap ke dalam.
Saat ritual dimulai, para pemuda mengenakan sarung tangan tersebut selama sekitar sepuluh menit, dan harus menahan rasa sakit luar biasa dari ratusan sengatan semut peluru.
“Rasanya seperti ditembak, dan itu berlangsung selama berjam-jam,” ujar Evelyn Blackwood dalam laporan Sick History.
Efek dari sengatan ini bukan hanya rasa sakit, tetapi juga tremor, kelumpuhan otot sementara, bahkan halusinasi. Setelah sarung tangan dilepas, tubuh peserta gemetar hebat dan bisa mengalami disorientasi selama berjam-jam.
Menariknya, dilansir dari earthlymission.com, ritual ini tidak dilakukan sekali saja. Para pemuda harus mengulanginya hingga 20 kali dalam kurun waktu tertentu agar diakui sebagai pria dewasa oleh komunitasnya.
Kepala suku Satere-Mawé menyatakan bahwa tujuan dari ritual ini adalah untuk mengajarkan bahwa “tidak ada kehidupan tanpa penderitaan atau usaha”.
Kutipan tersebut mencerminkan filosofi hidup suku Satere-Mawé yang menjunjung tinggi ketahanan, keberanian, dan pengorbanan sebagai nilai utama dalam kehidupan.
Tradisi ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Dalam kepercayaan suku Satere-Mawé, sengatan semut peluru dipercaya mampu membersihkan jiwa dan memperkuat tubuh.
Ritual ini menjadi simbol transformasi, di mana rasa sakit bukan hanya ujian fisik, tetapi juga proses pembentukan karakter dan spiritualitas.
Meski terdengar ekstrem, ritual sarung tangan semut api telah menarik perhatian banyak antropolog dan peneliti budaya. Mereka melihatnya sebagai bentuk warisan budaya yang unik dan penuh makna.
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai lokal dan spiritualitas masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat adat.
Dengan populasi yang terus bertahan di tengah tekanan eksternal, suku Satere-Mawé menjaga tradisi ini sebagai bagian dari identitas mereka.
Di saat dunia luar mungkin melihatnya sebagai bentuk penderitaan, bagi mereka, ritual ini adalah simbol kekuatan, kehormatan, dan kedewasaan yang tak ternilai. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022