Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Sundar Pichai, dan Elon Musk menghadiri pelantikan Donald Trump pada 20 Januari 2025. (The Guardian)
JawaPos.com — Laporan terbaru Oxfam America mengungkap bahwa kekayaan gabungan sepuluh miliarder terkaya di Amerika Serikat (AS) melonjak sebesar USD 698 miliar atau sekitar Rp11,66 triliun (mengacu pada kurs Rp16.700 per dolar) dalam setahun terakhir.
Kenaikan tajam ini menyoroti jurang ketimpangan ekonomi yang semakin melebar di negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut, serta menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjangnya terhadap stabilitas sosial dan politik global.
Melansir The Guardian, Rabu (5/11/2025), Oxfam memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintahan Donald Trump berpotensi "mendorong ketimpangan di Amerika Serikat ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya".
Namun, laporan itu juga menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya hasil kebijakan satu pihak. Baik Partai Republik maupun Demokrat disebut turut memperdalam kesenjangan melalui kebijakan ekonomi yang lebih menguntungkan kelompok berpenghasilan tinggi.
Berdasarkan analisis data Federal Reserve periode 1989–2022, Oxfam mencatat bahwa rumah tangga di kelompok 1 persen teratas menambah kekayaan 101 kali lebih besar dibandingkan rumah tangga rata-rata, dan 987 kali lebih besar dari kelompok 20 persen terbawah.
Dalam nilai riil, setiap rumah tangga di kelompok 1 persen teratas memperoleh tambahan kekayaan sekitar USD 8,35 juta, sedangkan peningkatan bagi rumah tangga rata-rata hanya sekitar USD 83.000 selama 33 tahun terakhir.
Sementara itu, lebih dari 40 persen penduduk Amerika, termasuk hampir separuh anak-anak, kini tergolong berpenghasilan rendah, dengan pendapatan keluarga di bawah 200 persen garis kemiskinan nasional. Kondisi ini menempatkan AS di posisi kurang menguntungkan di antara negara-negara maju.
Dibandingkan dengan 10 ekonomi terbesar dalam Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), AS menempati peringkat tertinggi dalam kemiskinan relatif, kedua dalam tingkat kemiskinan anak dan kematian bayi, serta salah satu yang terendah dalam harapan hidup.
Baca Juga: Sudan di Ambang Bencana Kemanusiaan: 21 Juta Warga Terancam Kelaparan, PBB Desak Dunia Bertindak
"Ketimpangan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pilihan kebijakan," ujar Rebecca Riddell, Pimpinan Kebijakan Senior Bidang Keadilan Ekonomi Oxfam America. Ia menambahkan bahwa data perbandingan antarnegara menunjukkan bagaimana keputusan politik dan ekonomi dapat secara langsung menentukan kesejahteraan masyarakat.
Oxfam juga menyoroti bagaimana sistem perpajakan, perlindungan tenaga kerja, dan jaring pengaman sosial secara bertahap dilemahkan selama beberapa dekade terakhir, memungkinkan akumulasi kekayaan besar berubah menjadi kekuatan politik.
Kebijakan pajak besar yang diluncurkan oleh pemerintahan Trump, yang dijuluki “satu undang-undang besar dan indah”, disebut sebagai salah satu bentuk transfer kekayaan paling signifikan ke arah kelompok kaya dalam sejarah modern Amerika.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
