Ilustrasi pasir gurun yang mulai distabilkan oleh mikroba cyanobacteria menjadi tanah subur (Earth)
JawaPos.com - Di tengah meningkatnya ancaman desertifikasi yang menggerus produktivitas lahan di berbagai benua, sebuah terobosan ekologis muncul dari negeri tirai bambu.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Soil Biology and Biochemistry menunjukkan bahwa para ilmuwan dari Tiongkok berhasil mengembangkan teknologi berbasis mikroba yang dapat mengubah pasir gurun menjadi tanah subur dalam waktu hanya 10–16 bulan, sebuah langkah cepat yang berpotensi menjadi solusi global terhadap degradasi lahan.
Dilansir dari laman Earth, Selasa (24/2/2026), tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences (CAS) menggunakan mikroba hasil biakan laboratorium untuk mengikat butiran pasir gurun yang longgar menjadi lapisan permukaan yang tipis namun stabil sehingga angin kencang tidak mudah membawa pasir itu terbang lagi. Permukaan yang kuat ini memberi kesempatan bagi tim restorasi untuk menanam semak dan rumput sebelum cuaca panas dan angin ekstrem menghancurkan bibit tanaman muda.
Kunci inovasi ini adalah bakteri purba cyanobacteria yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem. "Cyanobacteria menyerap karbon dioksida dan melepaskan materi organik. Mereka juga dapat melakukan fiksasi nitrogen, mengubah gas nitrogen menjadi nutrisi yang siap diserap tanaman," terang laporan tersebut, yang menjelaskan bagaimana mikroba ini membantu membentuk kondisi tanah yang lebih mendukung kehidupan tanaman.
Di uji coba lapangan dekat Gurun Taklamakan di Xinjiang, para ilmuwan CAS mencatat bahwa kerak biologis yang terbentuk melalui aktivitas mikroba tersebut mampu menstabilkan pasir hanya dalam 10 hingga 16 bulan, jauh lebih cepat daripada proses alami yang biasanya memakan waktu puluhan tahun atau lebih.
"Kecepatan ini sangat signifikan dibandingkan proses alami yang memakan waktu lama," tulis Earth.
Dengan demikian, lapisan yang terbentuk disebut kerak tanah biologis (biological soil crust), sebuah jaringan tipis yang mengikat butiran pasir melalui gula lengket yang dikeluarkan mikroba, kemudian mengeras menjadi permukaan kohesif. Struktur ini tidak hanya mencegah erosi angin tetapi juga memperlambat penguapan air, sehingga kelembapan dapat bertahan lebih lama di lapisan atas tanah.
Efek ekologisnya tidak berhenti di sana. Permukaan yang stabil membantu menahan nutrisi seperti nitrogen dan fosfor di lapisan atas tanah, alih-alih membiarkannya terbang terbawa angin. Nutrisi yang terakumulasi ini memungkinkan komunitas mikroba berkembang lebih lanjut, membuka peluang bagi vegetasi untuk tumbuh dengan lebih baik.
Namun, para peneliti juga menyoroti tantangan pelaksanaannya. Teknologi ini memerlukan perlindungan lahan dari kerusakan fisik seperti injakan kaki, ban kendaraan, dan tekanan ternak, karena gangguan tersebut dapat merusak kerak biologis yang terbentuk.
Selain itu, strain (varian) mikroba lokal sering kali lebih tangguh terhadap kondisi ekstrem dibandingkan strain yang dibawa dari luar, sehingga diperlukan penyesuaian lebih lanjut untuk penerapan skala luas
Inovasi ini bukan sekadar perkembangan ilmiah lokal, tetapi mendapat sorotan global karena potensinya membantu negara-negara di Afrika Utara, Timur Tengah, Australia, dan bagian lain dunia yang menghadapi tantangan serupa.
Sebagai contoh, EcoHubMap melaporkan bahwa teknologi berbasis cyanobacteria yang dikembangkan di stasiun penelitian gurun Tiongkok dapat menahan kecepatan angin hingga puluhan kilometer per jam dan diperkirakan akan memulihkan ribuan hektar lahan kering dalam beberapa tahun ke depan.
Ke depannya, para ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang untuk menilai daya tahan teknologi ini terhadap variasi iklim dan kondisi geografis yang berbeda, serta untuk memastikan bahwa manfaat ekologisnya berkelanjutan di berbagai wilayah yang rentan desertifikasi.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
