
Gumpalan asap membumbung saat serangan menghantam Teheran pada Kamis, 5 Maret 2026 di tengah perang AS-Israel terhadap Iran. (Vahid Salemi/AP)
JawaPos.com - Konflik antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel terus memanas. Setelah gelombang serangan udara besar mengguncang sejumlah kota Iran, Teheran kini mengancam akan memperluas serangan militernya dalam beberapa hari ke depan.
Militer Iran pada Jumat (6/3) menyatakan operasi balasan terhadap Israel dan kepentingan Amerika Serikat akan diperluas. Pernyataan tersebut disiarkan oleh televisi pemerintah Iran di tengah eskalasi perang yang telah berlangsung selama hampir sepekan.
Ancaman itu muncul sehari setelah pejabat tinggi Iran menegaskan kesiapan mereka menghadapi kemungkinan invasi darat Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan memperingatkan bahwa langkah tersebut akan menjadi 'bencana besar' bagi Washington.
Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kemungkinan pengerahan pasukan darat dalam waktu dekat.
“Ini hanya membuang waktu. Mereka sudah kehilangan segalanya. Mereka kehilangan angkatan laut mereka dan semua yang bisa mereka kehilangan,” kata Trump kepada jaringan televisi NBC.
Korban Sipil Membengkak, Ratusan Anak Tewas
Sementara mengutip Al-Jazeera, di tengah ancaman eskalasi militer, jumlah korban sipil akibat serangan udara terus meningkat. Menurut data terbaru dari UNICEF, dari lebih dari 1.300 korban tewas di Iran sejauh ini, setidaknya 181 di antaranya adalah anak-anak.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada hari pertama serangan ketika sebuah sekolah dasar khusus perempuan di kota Minab, Iran selatan, terkena serangan udara. Menurut laporan yang dikutip dari Garda Revolusi Iran, sedikitnya 175 anak dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Insiden itu kini menjadi sorotan internasional.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth sebelumnya mengakui bahwa militer AS sedang melakukan penyelidikan terkait kemungkinan keterlibatan pasukan Amerika dalam serangan tersebut.
Sumber pejabat AS yang dikutip Reuters mengatakan penyelidik militer menduga kuat serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh pasukan Amerika, meski kesimpulan final belum ditetapkan.
PBB Desak Investigasi Cepat
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Turk mendesak Washington untuk segera menyelesaikan investigasi secara transparan dan independen.
Ia menekankan pentingnya akuntabilitas jika terbukti bahwa serangan tersebut memang menargetkan fasilitas pendidikan. “Kami membutuhkan penyelidikan yang cepat, transparan, dan tidak memihak. Harus ada pertanggungjawaban serta pemulihan bagi para korban,” kata Turk kepada wartawan di Jenewa.
Menurut hukum humaniter internasional, serangan yang secara sengaja menargetkan sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Jika keterlibatan militer AS terbukti, insiden ini berpotensi menjadi salah satu kasus korban sipil paling mematikan dalam konflik Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir.
