
Ilustrasi Donald Trump bersama PM Jepang Sanae Takaichi. (Reuters).
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menuai sorotan usai membandingkan serangan militer AS ke Iran dengan serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 1941, peristiwa yang menjadi titik balik masuknya AS ke Perang Dunia II.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump saat menerima kunjungan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Oval Office. Dalam suasana yang awalnya santai, Trump menyinggung strategi serangan mendadak yang digunakan AS dalam operasi militernya ke Iran.
“Kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami ingin kejutan. Siapa yang lebih paham soal kejutan selain Jepang?” kata Trump, yang disambut tawa di ruangan.
Ia kemudian menambahkan, “Coba ceritakan ke saya soal Pearl Harbor,”
Ucapan tersebut langsung mengubah suasana. Takaichi tampak terkejut, matanya membesar, senyumnya memudar, dan ia menarik tubuhnya ke belakang sambil merapatkan tangan, menandakan ketidaknyamanan atas pernyataan tersebut.
Sebagai catatan sejarah, serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 mendorong Amerika Serikat masuk ke Perang Dunia II. Presiden saat itu, Franklin D. Roosevelt, menyebut peristiwa tersebut sebagai 'tanggal yang akan hidup dalam kenistaan' saat meminta Kongres menyatakan perang.
Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan, Trump juga menjelaskan alasan di balik keputusan tidak memberi tahu sekutu di Asia dan Eropa sebelum operasi militer dimulai pada 28 Februari.
“Satu hal yang tidak boleh dilakukan adalah memberi terlalu banyak sinyal ketika akan menyerang. Kami menyerang dengan sangat keras," ujar Trump.
Menurut Trump, unsur kejutan membuat hasil serangan jauh melampaui ekspektasi awal. Ia mengklaim dalam dua hari pertama, militer AS berhasil melumpuhkan target dalam skala besar.
Pihak Pentagon menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah menyerang sekitar 7.000 target di Iran, serta menenggelamkan atau merusak 120 kapal angkatan laut milik Teheran.
“Jika saya memberi tahu semua orang sebelumnya, maka tidak akan ada lagi unsur kejutan,” kata Trump menegaskan.
Pernyataan ini pun memicu perhatian publik internasional, bukan hanya karena substansinya, tetapi juga sensitivitas historis yang diangkat dalam forum diplomatik bersama sekutu dekat seperti Jepang.
