
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan penolakan terhadap pembunuhan warga sipil Palestina dan Israel imbas konflik militan Hamas-Israel.
JawaPos.com - Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri yang penuh makna kepada rakyat Palestina, baik yang berada di tanah air maupun diaspora, serta kepada bangsa-bangsa Arab dan umat Islam di seluruh dunia.
Dalam pesannya, Abbas tidak sekadar menyampaikan ucapan hari raya, tetapi juga menyelipkan harapan besar bagi masa depan Palestina.
Ia berharap Idul Fitri di masa mendatang dapat dirayakan dalam suasana kemerdekaan, dengan terwujudnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, serta menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
“Semoga momen ini kembali hadir dengan rakyat Palestina telah mencapai aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan berdirinya negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota,” ungkap Abbas.
Lebih luas, Abbas juga menyampaikan doa dan harapan bagi negara-negara Arab dan dunia Islam. Ia berharap masyarakat di kawasan tersebut dapat meraih kemajuan, kesejahteraan, keamanan, dan perdamaian yang berkelanjutan.
Baca Juga:Idul Fitri di Palestina Mencekam: Al-Aqsa Ditutup 21 Hari, Warga Gaza Shalat di Tengah Reruntuhan
Tak hanya itu, dalam konteks situasi geopolitik yang memanas, Abbas menegaskan sikap Palestina yang berdiri bersama negara-negara Arab yang tengah menghadapi konflik dan ancaman keamanan.
Ia menyatakan solidaritas terhadap negara-negara Teluk, Yordania, serta negara-negara yang menghadapi serangan dari Iran.
Di sisi lain, Abbas juga menyoroti kondisi Lebanon yang saat ini menghadapi serangan drone Israel yang disebutnya brutal.
Ia menegaskan penolakan tegas terhadap segala bentuk serangan maupun pelanggaran yang merusak kedaulatan negara dan mengancam stabilitas kawasan.
“Negara Palestina menolak segala bentuk serangan atau pelanggaran yang merusak kedaulatan negara-negara dan mengancam keamanan serta stabilitas mereka,” tegasnya.
Pesan Idul Fitri Abbas kali ini mencerminkan bukan hanya semangat perayaan, tetapi juga seruan politik dan kemanusiaan di tengah dinamika konflik regional yang belum mereda.
