Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Maret 2026, 23.15 WIB

Sikap Trump Berubah dalam 36 Jam, dari Redam Konflik hingga Ultimatum Serang Energi Iran Jika Hormuz Tak Dibuka

Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN). - Image

Ilustrasi mimik wajah marah Donald Trump. (CNN).

JawaPos.com - Sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap konflik dengan Iran berubah drastis dalam waktu kurang dari 36 jam. Dari semula memberi sinyal meredakan ketegangan, Trump kini justru mengeluarkan ancaman keras yang berpotensi memperluas eskalasi di kawasan.

Perubahan itu bermula pada Jumat (20/3) siang, ketika Trump secara tegas menolak opsi gencatan senjata dengan Iran. "Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata dengan Iran,"ujarnya.

Namun hanya beberapa jam kemudian, arah kebijakan mulai bergeser. Hari yang sama, malam harinya, pejabat Gedung Putih menyebut Washington tengah mempertimbangkan langkah 'winding down' atau meredakan konflik.

Memasuki Sabtu (21/3) pagi, sinyal diplomasi semakin terlihat. Jalur pembicaraan damai melalui mediator seperti Qatar dan Mesir mulai dijajaki, menunjukkan adanya peluang deeskalasi di tengah ketegangan yang terus meningkat.

Namun situasi kembali berbalik tajam pada Sabtu malam. Dalam unggahan di Truth Social pukul 19.44 waktu AS Timur (23.44 GMT), Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Ia menuntut agar Selat Hormuz dibuka sepenuhnya tanpa ancaman dalam waktu 48 jam.

"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari titik waktu yang tepat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu," tulis Trump.

Ancaman tersebut menandai eskalasi signifikan dalam retorikanya. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan kepada PBS bahwa ia sengaja menghindari penargetan pembangkit listrik di Teheran karena dampaknya bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang dan trauma bagi warga sipil.

Dari pihak Iran, respons keras langsung disampaikan Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa Teheran akan menunjukkan 'zero restraint' atau tidak akan menahan diri jika infrastruktur negaranya diserang.

Ketegangan ini terjadi di tengah terganggunya Selat Hormuz sejak awal Maret. Jalur tersebut merupakan salah satu titik paling krusial dalam distribusi energi global, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari, atau hampir seperlima pasokan dunia.

Di saat yang sama, konflik yang lebih luas juga terus memburuk. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dimulai sejak 28 Februari dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Perubahan sikap Trump yang begitu cepat, dari membuka ruang diplomasi hingga mengeluarkan ancaman militer dalam hitungan jam, menjadi sorotan tajam dan menambah ketidakpastian di tengah krisis yang sudah mengguncang stabilitas kawasan serta pasokan energi global.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore