
Warren Buffett, CEO Berkshire Hathaway, berbicara kepada media saat tiba dalam rapat tahunan pemegang saham di Omaha, Nebraska, 4 Mei 2019 (INC)
JawaPos.com - Retaknya konsensus filantropi di kalangan miliarder global kini memasuki fase terbuka. Ketegangan antara Warren Buffett dan Peter Thiel tidak lagi sekadar menunjukkan perbedaan pandangan, tetapi menandai perubahan arah pemikiran di kalangan elite global tentang bagaimana kekayaan seharusnya digunakan, apakah melalui filantropi atau melalui penciptaan nilai ekonomi secara langsung.
Selama bertahun-tahun, Buffett dikenal sebagai penggerak utama filantropi global melalui The Giving Pledge, inisiatif yang dia dirikan bersama Bill Gates dan Melinda French Gates. Komitmen ini mendorong para miliarder untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka selama hidup atau setelah wafat.
Melansir dari Inc, Selasa (24/3/2026), komitmen tersebut kini menghadapi gelombang penolakan yang semakin nyata. The New York Times melaporkan bahwa Thiel secara privat mendorong sekitar selusin penandatangan untuk menarik diri, bahkan menyebut inisiatif itu sebagai "klub Boomer palsu yang berdekatan dengan Epstein." Pernyataan ini tidak hanya bernada kritik, tetapi juga menunjukkan upaya delegitimasi terhadap nilai yang diusung program tersebut.
Baca Juga:Greg Abel Masih Berdiskusi Hampir Setiap Hari dengan Warren Buffett di Era Baru Berkshire Hathaway
Perubahan sikap juga terlihat dari sejumlah tokoh besar. CEO Coinbase, Brian Armstrong, dilaporkan keluar secara diam-diam, sementara Larry Ellison memilih untuk "mengubah" komitmennya. Pada saat yang sama, laju penandatangan baru menurun tajam, sebuah sinyal kuat adanya resistensi di kalangan miliarder generasi baru.
Namun yang sering disederhanakan adalah inti kritik itu sendiri. Argumen yang berkembang bukan sekadar soal preferensi pribadi, melainkan keyakinan bahwa filantropi kerap tidak efisien dan bersifat simbolik. Dalam kerangka ini, cara paling efektif untuk "memperbaiki dunia" adalah dengan membangun perusahaan, teknologi, dan sistem yang menciptakan nilai ekonomi serta lapangan kerja, bukan melalui donasi.
Sebagian kritik tersebut diakui memiliki dasar. Banyak lembaga filantropi dinilai tidak efisien, dan dalam praktiknya, terdapat kesenjangan antara misi yang diklaim dengan dampak nyata di lapangan. Namun, seperti disorot dalam laporan tersebut, serangan terhadap The Giving Pledge tidak sepenuhnya berangkat dari evaluasi efektivitas, melainkan juga tekanan sosial dan politik yang lebih luas.
Dalam konteks ini, respons Buffett justru menjadi signifikan. Dalam jawabannya kepada The New York Times, dia menegaskan bahwa meskipun "keterbatasan fisik" membuatnya mengurangi partisipasi langsung, dia "tidak memiliki niat untuk mengubah pandangannya tentang keberhasilan The Giving Pledge." Pernyataan singkat ini mencerminkan konsistensi, bukan defensif.
Selain itu, Buffett tidak pernah menempatkan filantropi sebagai satu-satunya instrumen untuk menciptakan dampak. Dia menghabiskan puluhan tahun membangun Berkshire Hathaway, sehingga memahami secara utuh nilai dari penciptaan bisnis dan akumulasi kapital.
Namun, Buffet tetap menekankan bahwa kesuksesan finansial sangat dipengaruhi oleh faktor keberuntungan sejak lahir, seperti negara tempat dilahirkan, lingkungan keluarga, dan momentum ekonomi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu.
Dari sudut pandang ini, kekayaan bukan sekadar hasil kerja keras, melainkan juga hasil dari kondisi yang menguntungkan. Karena itu, menurut Buffett, terdapat kewajiban moral bagi mereka yang paling diuntungkan untuk memberi kembali kepada masyarakat meskipun mekanismenya tidak selalu sempurna.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022