Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 April 2026 | 21.39 WIB

Ambisi Global Larry Ellison di London Terbentur Risiko Keamanan Diplomatik, Proyek Kantor Baru Picu Penolakan

Larry Ellison menghadapi sorotan atas rencana pembangunan ulang lahannya di dekat Chatham House, London, yang dinilai berisiko terhadap keamanan (The Telegraph) - Image

Larry Ellison menghadapi sorotan atas rencana pembangunan ulang lahannya di dekat Chatham House, London, yang dinilai berisiko terhadap keamanan (The Telegraph)

JawaPos.com - Ambisi ekspansi global miliarder teknologi Larry Ellison kembali menjadi sorotan setelah rencananya membangun kantor pusat baru di pusat kota London dinilai berpotensi mengganggu keamanan diplomatik. Ekspansi di jantung kota itu mencerminkan agresivitas elite teknologi Amerika Serikat dalam memperluas pengaruh global, sekaligus memantik kekhawatiran serius dari institusi kebijakan internasional terkemuka.

Rencana tersebut melibatkan pembangunan kantor berbasis riset milik Ellison Institute of Technology di St James's Square, kawasan prestisius dekat Piccadilly. Proyek ini akan memanfaatkan deretan townhouse abad ke-18 dan ke-19, yang sebelumnya dibeli oleh kantor keluarga Ellison pada 2024 senilai £162 juta atau sekitar Rp 3,71 triliun (dengan kurs Rp 22.890 per pound sterling). Biaya konstruksi diperkirakan mencapai tambahan £100 juta atau sekitar Rp 2,28 triliun.

Namun, proyek ini mendapat penolakan keras dari Chatham House, lembaga think tank kebijakan global yang bertetangga langsung dengan lokasi pembangunan. Dilansir dari The Telegraph, Senin (13/4/2026), desain kantor dengan dinding kaca dan ruang terbuka dinilai menciptakan risiko keamanan serius terhadap aktivitas diplomatik di institusi tersebut.

Dalam surat resmi kepada Dewan Kota Westminster, Chatham House menegaskan bahwa rencana tersebut akan memungkinkan "pengawasan langsung yang berbahaya ke area sensitif" di dalam gedung mereka. Mereka juga memperingatkan bahwa desain tersebut "akan memperkenalkan risiko keamanan operasional yang secara fundamental tidak kompatibel dengan kebutuhan dan tanggung jawab institusi kebijakan yang diakui secara global, sehingga menciptakan tingkat gangguan dan kerentanan yang tidak dapat dimitigasi secara wajar."

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Chatham House secara rutin menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan kepala negara, menteri senior, diplomat, hingga delegasi internasional. Sepanjang sejarahnya, tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Elizabeth II, Nelson Mandela, Margaret Thatcher, hingga Ronald Reagan pernah berkunjung ke institusi ini.

Selain isu keamanan visual, Chatham House juga menyoroti dampak lingkungan dari proyek tersebut. Mereka menyatakan bahwa peningkatan kebisingan, pencahayaan, dan lalu lintas manusia akan "mengurangi kesakralan dan martabat" kawasan yang selama ini menjadi ruang diskusi strategis global.

Di sisi lain, Ellison, pendiri Oracle, dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam lingkup teknologi dan geopolitik modern. Dia memiliki hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan telah menyumbangkan ratusan juta dolar kepada Tony Blair Institute. Kedekatan ini memperkuat posisinya dalam jaringan kekuasaan global.

Selain itu, langkah Ellison juga mencerminkan pergeseran peran miliarder teknologi dalam kebijakan global. Pada Maret lalu, Presiden AS Donald Trump menunjuk Ellison sebagai anggota dewan penasihat sains dan teknologi Gedung Putih, bersama Mark Zuckerberg dan Jensen Huang. Ini menunjukkan integrasi erat antara sektor teknologi dan pengambilan kebijakan strategis.

Proyek ini sendiri dirancang oleh firma arsitektur ternama Foster + Partners, yang sebelumnya menggarap ikon London seperti Gherkin. Menariknya, kelompok pelestarian warisan seperti Georgian Group dan Historic England tidak mengajukan keberatan, menandakan bahwa isu utama terletak pada aspek keamanan, bukan arsitektur.

Sebagai penutup, penolakan ini berpotensi menghambat realisasi markas baru Larry Ellison di London. Kasus ini sekaligus menyoroti bagaimana ekspansi fisik aktor teknologi global kini bersinggungan langsung dengan kebutuhan keamanan diplomatik, terutama di lokasi yang menjadi pusat interaksi elite internasional.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore