
Gumpalan asap membumbung saat serangan menghantam Teheran pada Kamis, 5 Maret 2026 di tengah perang AS-Israel terhadap Iran. (Vahid Salemi/AP)
JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat meski kedua pihak mengklaim adanya kemajuan dalam proses negosiasi. Pernyataan terbaru dari pejabat tinggi Iran justru menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari tercapai, sementara ancaman konflik militer kembali membayangi menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Rabu mendatang.
Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Sabtu (18/4) malam, mengakui adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan AS. Namun ia menegaskan bahwa sejumlah perbedaan mendasar masih belum terselesaikan.
“Meski ada kemajuan, masih banyak kesenjangan dan beberapa poin fundamental yang tersisa… kami masih jauh dari tahap akhir pembahasan,” ujar Ghalibaf.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump terkait program nuklir Iran. Ia mempertanyakan legitimasi Washington dalam membatasi hak nuklir Teheran.
“Trump mengatakan Iran tidak boleh memanfaatkan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan atas dasar apa. Siapa dia hingga bisa mencabut hak suatu bangsa?” kata Pezeshkian, seperti dikutip media lokal.
Isu program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz menjadi dua titik krusial dalam negosiasi. Situasi semakin kompleks setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali memberlakukan pembatasan di jalur strategis tersebut, kurang dari 24 jam setelah sebelumnya dibuka kembali.
Langkah itu disebut sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Ghalibaf bahkan menyebut kebijakan Washington sebagai tindakan 'bodoh' dan 'tidak masuk akal'.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan kapal negara lain melintas jika akses kapal-kapalnya sendiri dibatasi. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa militer Iran dalam kondisi siap penuh jika konflik kembali pecah sewaktu-waktu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen minyak dunia melewati wilayah tersebut. Pengamat menilai Iran menjadikan selat ini sebagai alat tawar paling kuat dalam negosiasi dengan AS.
Upaya untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai masih menemui jalan buntu. Sebelumnya, pembicaraan awal di Islamabad pada 12 April berakhir tanpa kesepakatan. Rencana lanjutan juga belum memiliki jadwal pasti.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Prediksi Skor Prancis vs Maroko: Bandar Taruhan Klaim Les Bleus Menang 90 Menit, Opta Beri Peluang Pasti 60,9 Persen
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
