Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 April 2026 | 01.47 WIB

Negosiasi Iran-AS Disebut 'Maju tapi Jauh dari Deal, Ancaman Perang Kembali Menguat Jelang Batas Gencatan Senjata

Gumpalan asap membumbung saat serangan menghantam Teheran pada Kamis, 5 Maret 2026 di tengah perang AS-Israel terhadap Iran. (Vahid Salemi/AP) - Image

Gumpalan asap membumbung saat serangan menghantam Teheran pada Kamis, 5 Maret 2026 di tengah perang AS-Israel terhadap Iran. (Vahid Salemi/AP)

JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat meski kedua pihak mengklaim adanya kemajuan dalam proses negosiasi. Pernyataan terbaru dari pejabat tinggi Iran justru menegaskan bahwa kesepakatan masih jauh dari tercapai, sementara ancaman konflik militer kembali membayangi menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Rabu mendatang.

Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Sabtu (18/4) malam, mengakui adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan AS. Namun ia menegaskan bahwa sejumlah perbedaan mendasar masih belum terselesaikan.

“Meski ada kemajuan, masih banyak kesenjangan dan beberapa poin fundamental yang tersisa… kami masih jauh dari tahap akhir pembahasan,” ujar Ghalibaf.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu menyoroti sikap Presiden AS Donald Trump terkait program nuklir Iran. Ia mempertanyakan legitimasi Washington dalam membatasi hak nuklir Teheran.

“Trump mengatakan Iran tidak boleh memanfaatkan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan atas dasar apa. Siapa dia hingga bisa mencabut hak suatu bangsa?” kata Pezeshkian, seperti dikutip media lokal.

Isu program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz menjadi dua titik krusial dalam negosiasi. Situasi semakin kompleks setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali memberlakukan pembatasan di jalur strategis tersebut, kurang dari 24 jam setelah sebelumnya dibuka kembali.

Langkah itu disebut sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Ghalibaf bahkan menyebut kebijakan Washington sebagai tindakan 'bodoh' dan 'tidak masuk akal'.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan kapal negara lain melintas jika akses kapal-kapalnya sendiri dibatasi. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa militer Iran dalam kondisi siap penuh jika konflik kembali pecah sewaktu-waktu.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen minyak dunia melewati wilayah tersebut. Pengamat menilai Iran menjadikan selat ini sebagai alat tawar paling kuat dalam negosiasi dengan AS.

Upaya untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai masih menemui jalan buntu. Sebelumnya, pembicaraan awal di Islamabad pada 12 April berakhir tanpa kesepakatan. Rencana lanjutan juga belum memiliki jadwal pasti.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore