
Ilustrasi ekonomi AS dilaporkan menuju keruntuhan akibat perang Iran. (TradingView)
JawaPos.com - Perang yang melibatkan Iran kini bukan sekadar isu geopolitik di kawasan Timur Tengah saja. Dampaknya mulai terasa nyata di dalam negeri Amerika Serikat (AS), negara yang memulai perang bersama sekutunya, Israel, dan disebut semakin sulit untuk disangkal.
Laporan terbaru mengungkap, tekanan ekonomi yang dipicu konflik tersebut telah mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi secara lebih luas.
Laporan yang dipublikasikan oleh CNN menyebutkan bahwa efek berkelanjutan dari konflik Iran berpotensi memicu fenomena 'demand destruction'. Kondisi ini terjadi ketika harga melonjak tajam hingga memaksa rumah tangga dan pelaku usaha mengubah pola belanja, bekerja, hingga investasi mereka.
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari terganggunya jalur distribusi energi global, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut. Jalur vital ini menjadi kunci distribusi minyak dunia, dan gangguan di wilayah tersebut dapat mengguncang bahkan merusak ekonomi Amerika Serikat.
Dilansir pada Selasa (5/5), di dalam negeri AS, dampaknya sangat terasa di sektor energi. Data dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan bahwa harga energi melonjak 10,9 persen pada Maret, dipicu lonjakan harga bensin sebesar 21,2 persen, kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1967. Secara keseluruhan, inflasi tahunan juga tercatat naik 3,3 persen.
Ekonom utama dari RSM US, Joe Brusuelas, memperingatkan bahwa waktu bukanlah sekutu bagi ekonomi Amerika. Ia menegaskan bahwa energi merupakan komponen penting dalam hampir semua sektor ekonomi, sehingga kenaikan harga minyak memicu efek berantai yang luas, mulai dari biaya transportasi, logistik, pertanian, penerbangan, manufaktur, hingga distribusi bahan makanan.
Para ekonom RSM juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak pada akhirnya bertindak seperti 'pajak tambahan' bagi masyarakat dan pelaku usaha. Konsumen cenderung menunda pembelian, sementara perusahaan akan memangkas biaya operasional.
Jika inflasi yang dipicu energi terus meningkat, bank sentral kemungkinan akan kesulitan menurunkan suku bunga dan terpaksa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, yang pada akhirnya menambah tekanan ekonomi.
Dampak ini bukan sekadar angka statistik. Seorang insinyur industri otomotif berusia 30 tahun bernama Bryan mengaku mulai mengurangi penggunaan kendaraan, lebih sering bekerja dari rumah, hingga menunda rencana renovasi rumah dan pembelian mobil baru.
Sementara itu, seorang pengemudi layanan transportasi online terpaksa menolak perjalanan jarak jauh dan beralih ke produk kebutuhan sehari-hari yang lebih murah.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
