
Ilustrasi Sara Duterte, Wapres Filipina yang juga merupakan Rodrigo Duterte. (AP via Nikkei Asia)
JawaPos.com - Wakil Presiden Filipina Sara Duterte kembali dimakzulkan oleh DPR Filipina. Mayoritas anggota parlemen menyetujui impeachment tersebut yang diketahui merupakan yang kedua kalinya.
Namun, upaya pencopotan putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu belum tentu berhasil karena proses akhir kini bergantung pada Senat yang mulai dikuasai kubu pendukung Duterte.
Sebanyak 257 dari total 318 anggota House of Representatives memilih mendukung impeachment terhadap Sara Duterte. Angka itu jauh melampaui syarat minimum sepertiga suara agar kasus dapat dibawa ke Senat untuk disidangkan. Sementara itu, 26 anggota menolak dan sembilan lainnya abstain.
Baca Juga:Kapten West Ham Kecam Wasit usai Gol Callum Wilson di Menit Akhir Dianulir saat Kontra Arsenal
Voting tersebut menjadi babak terbaru dari konflik politik panas antara keluarga Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr yang sebelumnya sempat bersekutu dalam Pemilu 2022. Perseteruan dua dinasti politik terbesar Filipina itu kini semakin memperuncing ketegangan politik nasional di tengah tekanan ekonomi global dan krisis energi.
Dilansir dari Al-Jazeera, Sara Duterte menghadapi sejumlah tuduhan serius, mulai dari pelanggaran konstitusi hingga pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
DPR Filipina menuduhnya menyalahgunakan dana rahasia pemerintah, tidak melaporkan kekayaan secara transparan, dugaan suap, hingga keterkaitan dengan ancaman terhadap Presiden Ferdinand Marcos Jr, Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan mantan Ketua DPR Martin Romualdez.
Salah satu tuduhan yang paling menyita perhatian berkaitan dengan transaksi perbankan bernilai lebih dari USD 110 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun yang disebut telah ditandai lembaga anti pencucian uang Filipina.
Anggota DPR Terry Ridon, salah satu pengusul impeachment, menyebut skala transaksi tersebut sulit dijelaskan melalui pendapatan resmi maupun aset yang dilaporkan Duterte.
“Pemungutan suara hari ini bukan sekadar agenda politik, tetapi bentuk pertanggungjawaban konstitusional,” kata Ridon dalam pernyataannya.
Ketua Komite Kehakiman DPR Filipina, Gerville Luistro, juga menegaskan bahwa kasus ini bukan hanya soal hukum, tetapi menyangkut moralitas dan masa depan demokrasi Filipina.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022