
Kantor pusat SpaceX di Hawthorne, California / Foto: (Reuters)
JawaPos.com — Google dilaporkan tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, untuk mendukung Project Suncatcher, proyek pusat data kecerdasan buatan (AI) berbasis satelit di orbit Bumi.
Pembicaraan tersebut menandai semakin agresifnya persaingan industri teknologi global dalam membangun infrastruktur komputasi AI generasi berikutnya, tidak lagi hanya di daratan, tetapi juga di antariksa.
Project Suncatcher dikembangkan sebagai jaringan satelit bertenaga surya yang membawa Tensor Processing Unit (TPU) milik Google guna membentuk sistem komputasi awan AI di antariksa.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pusat data konvensional di Bumi yang membutuhkan konsumsi listrik, pendinginan, dan lahan dalam skala sangat besar seiring lonjakan kebutuhan komputasi AI global.
Dilansir dari Reuters, Jumat (15/5/2026), Google menyatakan perusahaan “telah berdiskusi dengan SpaceX dan pihak lain terkait peluncuran masa depan untuk Project Suncatcher”. Dalam laporan yang sama, Reuters menyebut Google berencana meluncurkan prototipe awal proyek tersebut bersama Planet Labs sekitar tahun 2027.
Selain berdimensi teknologi, langkah tersebut juga mencerminkan perubahan dinamika hubungan antara perusahaan-perusahaan besar AI Amerika Serikat. Reuters menilai potensi kerja sama tersebut sebagai “kedua kalinya Musk berdamai dengan rival AI yang sebelumnya dia kritik secara terbuka.” Musk diketahui ikut mendirikan OpenAI pada 2015 sebagai penyeimbang ambisi AI Google, sebelum kemudian berselisih dengan salah satu pendiri Google, Larry Page, terkait isu keselamatan AI.
Kini, hubungan kompetitif tersebut justru bergeser menjadi perebutan dominasi infrastruktur AI masa depan. SpaceX dan Google berada di jalur yang sama dalam upaya membawa pusat data AI ke orbit antariksa.
Media teknologi TechCrunch melaporkan pembicaraan itu berlangsung ketika SpaceX tengah mempersiapkan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yang diperkirakan menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah industri teknologi global.
Di sisi lain, The Wall Street Journal menyebut pusat data orbital mulai dipandang sebagai solusi jangka panjang atas krisis energi dan keterbatasan lahan pusat data di Bumi. Dengan memanfaatkan panel surya di orbit, satelit dapat memperoleh paparan sinar Matahari hampir tanpa henti sehingga dinilai lebih efisien untuk menopang kebutuhan daya komputasi AI berskala besar.
Meski demikian, pengembangan pusat data di antariksa tetap menghadapi tantangan teknologi yang kompleks. Mulai dari paparan radiasi kosmik, sistem pelepasan panas perangkat komputasi di ruang hampa, hingga tingginya biaya peluncuran perangkat keras ke orbit masih menjadi hambatan utama yang harus diatasi perusahaan teknologi dan antariksa.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
