Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juni 2026 | 00.43 WIB

AS-Iran Capai Kesepakatan Sementara untuk Akhiri Perang, Namun Israel Tolak Mundur dari Lebanon

Warga terdampak bersiap kembali ke desa mereka di Sidon setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata awal AS-Iran (Freepik) - Image

Warga terdampak bersiap kembali ke desa mereka di Sidon setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata awal AS-Iran (Freepik)

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal pada Senin (15/6) dini hari untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis utama perdagangan energi global.

Kesepakatan ini akan mulai diimplementasikan setelah penandatanganan resmi pada Jumat di Swiss dengan mediasi Pakistan.

Meski demikian, perkembangan tersebut segera diikuti eskalasi politik di kawasan setelah Israel menegaskan tidak akan menarik diri dari wilayah yang telah direbut di Lebanon, yang menambah tekanan terhadap kesepakatan yang baru diumumkan.

Dilansir dari The Seattle Times, Senin (15/6/2026), "AS dan Iran mencapai kesepakatan awal pada Senin dini hari yang akan memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dan membuka kembali Selat Hormuz, namun tantangan segera muncul termasuk Israel yang menegaskan tidak akan mundur dari wilayah yang direbut di Lebanon."

Ketegangan meningkat setelah Israel menyampaikan sikap resminya pasca pengumuman kesepakatan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menarik diri dari wilayah yang telah dikuasai di Lebanon. Ia bahkan menyebut Israel akan tetap berada di wilayah tersebut "tanpa batas waktu", termasuk di sebagian wilayah Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza.

Katz juga memperingatkan bahwa jika Iran merespons serangan Israel di Lebanon, maka Israel akan membalas dengan "kekuatan besar". Pernyataan ini memperlihatkan bahwa kesepakatan yang diumumkan Washington dan Teheran masih berada dalam posisi sangat rentan terhadap eskalasi baru di lapangan.

Dalam perkembangan konflik yang lebih luas, Israel disebut telah menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi wilayah di Gaza, Lebanon, dan Suriah dalam 2,5 tahun terakhir. Luasan tersebut hampir setara namun sedikit lebih kecil dari wilayah Kota New York, mencerminkan skala perluasan kendali militer yang terjadi selama perang berlangsung.

Sementara itu, kesepakatan AS–Iran juga menetapkan batas waktu 60 hari untuk menyelesaikan isu krusial terkait cadangan uranium yang diperkaya tinggi serta program nuklir Iran. Isu ini telah menjadi titik utama perselisihan sejak runtuhnya perjanjian nuklir 2015, setelah AS menarik diri secara sepihak pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, yang kemudian memicu eskalasi ketegangan hingga perang saat ini.

Presiden Donald Trump menyambut kesepakatan tersebut melalui media sosial dengan menyatakan, "Selamat kepada semua!" Ia juga mengumumkan bahwa pembukaan Selat Hormuz serta pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat telah disetujui, meskipun kemudian ia menyebut langkah tersebut baru akan berlaku setelah penandatanganan resmi pada Jumat.

Di sisi lain, Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut di televisi nasional. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan memulai implementasi apa pun sebelum dokumen resmi ditandatangani. Selain itu, Iran menyebut pelaksanaan kesepakatan masih bergantung pada hasil akhir perundingan mendatang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore