
Sejumlah anak membaca buku cetak di ruang kelas di Stockholm, Swedia, 19 Maret 2026. (Kyodo)
JawaPos.com – Swedia yang selama ini dikenal sebagai salah satu pelopor digitalisasi pendidikan kini justru kembali mengandalkan buku cetak di ruang kelas. Pemerintah mengambil langkah tersebut setelah muncul kekhawatiran bahwa penggunaan layar secara berlebihan dapat mengganggu kemampuan belajar anak.
Seperti dilansir Kyodo, Senin (22/6), sekolah-sekolah di Swedia mulai mengurangi ketergantungan pada laptop dan tablet. Sebagai gantinya, siswa kembali menggunakan buku fisik dan materi cetak dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Di Sekolah Bandhagen, Stockholm, siswa kelas empat terlihat membaca keras-keras dari buku cetak setelah sebelumnya menghabiskan waktu membaca buku pilihan mereka. Pemandangan itu menjadi gambaran perubahan besar yang sedang berlangsung di sistem pendidikan Swedia.
"Saat membaca di perangkat elektronik, saya biasanya sakit kepala. Saya juga lebih mudah berkonsentrasi ketika membaca buku fisik," kata Emilia, seorang siswi remaja.
Swedia mulai memperluas penggunaan perangkat digital di sekolah sekitar 2010. Namun perdebatan mengenai efektivitas metode tersebut menguat setelah hasil Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD menunjukkan penurunan tajam kemampuan membaca dan matematika siswa antara 2018 hingga 2022.
Pemerintah kemudian meminta tim ahli saraf dan pakar kesehatan anak melakukan kajian. Hasilnya menyimpulkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap perangkat digital berpotensi mengurangi perhatian dan konsentrasi anak, sementara materi cetak dinilai lebih efektif untuk proses belajar.
Atas dasar itu, Swedia mengubah kebijakan pada 2023 dengan mendorong penggunaan metode belajar berbasis kertas, terutama untuk siswa usia dini. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran antara 658 juta hingga 755 juta krona atau sekitar USD 70 juta hingga USD 80 juta per tahun untuk penyediaan buku pelajaran dan materi cetak hingga 2025.
Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan prasekolah hingga sekolah wajib, yang setara dengan jenjang SD dan SMP di Jepang. Kebijakan ini menjadi perubahan arah yang cukup mencolok bagi negara yang sebelumnya sangat agresif menerapkan pembelajaran digital.
Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia, Joar Forssell, mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak dengan perkembangan otak yang masih berlangsung lebih rentan terhadap dampak penggunaan perangkat digital.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
