
JD Vance bertemu delegasi Pakistan menjelang dimulainya perundingan Amerika Serikat-Iran di Swiss yang dimediasi Qatar dan Pakistan (The Guardian)
JawaPos.com - Negosiasi berisiko tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss memasuki fase yang semakin rumit setelah delegasi Iran melakukan aksi keluar dari ruang perundingan sebagai bentuk protes terhadap serangkaian ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Namun, meski sempat terganggu, proses diplomatik tersebut diperkirakan tetap berlanjut sepanjang pekan ini dengan dukungan mediasi Qatar dan Pakistan. Menurut laporan The Guardian, Ketegangan meningkat ketika Trump melalui media sosial dan sejumlah wawancara televisi mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran serta melontarkan pernyataan yang dianggap mengancam keselamatan tim perunding Iran.
Situasi tersebut muncul di tengah upaya kedua negara mencari jalan keluar atas sengketa terkait Selat Hormuz, program nuklir sipil Iran, serta konflik yang terus berlangsung di Lebanon.
Baca Juga:AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Damai 60 Hari, Selat Hormuz Dibuka Kembali Usai Negosiasi Tegang
Dilansir dari The Guardian, Senin (22/6/2026), media pemerintah Iran menyebut perundingan telah memasuki "fase sulit" dan sempat dihentikan setelah munculnya "pesan menghina dari presiden Amerika Serikat." Delegasi Iran kemudian mengadakan pertemuan dengan mediator Qatar sebelum meninggalkan lokasi perundingan. Kendati demikian, negosiasi tingkat tinggi tetap berlangsung hingga dini hari Senin, sementara pembahasan teknis dijadwalkan berlanjut selama sisa pekan ini.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan apresiasi kepada Pakistan dan Qatar atas peran mereka dalam menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Menurutnya, kedua negara berhasil membantu menghasilkan kemajuan penting di tengah situasi yang sangat sensitif.
Dalam pernyataannya, Araghchi juga menekankan bahwa mekanisme pencegahan konflik yang disepakati terkait Lebanon akan menjadi ujian pertama atas pemahaman yang telah dicapai kedua pihak.
Qatar dan Pakistan dalam pernyataan bersama mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran sepakat membentuk jalur komunikasi langsung guna mencegah insiden di Selat Hormuz.
Selain itu, kedua pihak juga menyetujui pembentukan pusat koordinasi pencegahan konflik bersama pemerintah Lebanon untuk memastikan penghentian operasi militer dapat dipatuhi oleh seluruh pihak terkait.
Perundingan terbaru tersebut merupakan kelanjutan dari memorandum kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu. Kesepakatan itu dirancang untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi dasar bagi periode negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir sipil Iran.
Namun, suasana konstruktif yang sempat terbentuk berubah tegang setelah Trump melontarkan serangkaian ancaman yang dinilai bertentangan dengan semangat perjanjian, termasuk klausul nonagresi yang tercantum dalam memorandum tersebut.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
