
Pengacara pihak penggugat mengangkat spanduk bertuliskan kemenangan di depan Pengadilan Tinggi Fukuoka pada 27 Juli 2026, setelah pengadilan memerintahkan pemerintah pusat Jepang dan Pemerintah Prefektur Kumamoto membayar ganti rugi kepada keluarga korban yang selamat dari seorang pria yang dibebaskan dari dakwaan kasus pembunuhan pada 1985. (Kyodo)
JawaPos.com – Pengadilan Jepang memerintahkan pemerintah pusat dan Pemerintah Prefektur Kumamoto membayar ganti rugi kepada keluarga seorang pria yang sempat divonis bersalah dalam kasus pembunuhan pada 1985 sebelum akhirnya dibebaskan melalui proses peninjauan kembali atau retrial. Total ganti rugi yang harus dibayarkan mencapai 23 juta yen atau sekitar Rp2,55 miliar (kurs 1 yen sekitar Rp111).
Seperti dilansir Kyodo, Senin (27/7), putusan tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Tinggi Fukuoka. Pengadilan menyatakan interogasi yang dilakukan polisi Prefektur Kumamoto terhadap Koki Miyata sebelum penangkapannya merupakan tindakan yang melanggar hukum.
Majelis hakim menilai pemeriksaan dilakukan berdasarkan praduga bahwa Miyata bersalah. Interogasi itu juga bertujuan memaksa pengakuan dan telah melampaui batas yang diperbolehkan dalam pemeriksaan sukarela.
Miyata sebelumnya dijatuhi hukuman 13 tahun penjara atas pembunuhan rekan bermain shogi-nya, Matao Okamura, di Prefektur Kumamoto. Putusan tersebut berkekuatan hukum tetap pada 1990.
Setelah menjalani sebagian masa hukumannya, Miyata dibebaskan dengan status bebas bersyarat pada 1999. Kasusnya kemudian dibuka kembali pada Juni 2016 setelah muncul keraguan terhadap keabsahan pengakuan yang dijadikan dasar penuntutan.
Pada 2019, Miyata akhirnya dinyatakan tidak bersalah dalam persidangan ulang. Putusan tersebut mengakhiri perjuangan panjangnya untuk membersihkan nama setelah bertahun-tahun menyandang status terpidana.
Putusan terbaru ini berbeda dari keputusan Pengadilan Distrik Kumamoto pada Maret tahun lalu. Saat itu, pengadilan hanya memerintahkan pemerintah pusat membayar ganti rugi kepada keluarga Miyata.
Pengadilan distrik sebelumnya menyatakan jaksa lalai karena tidak mengungkapkan sejumlah barang bukti selama persidangan. Namun, saat itu pengadilan menilai tidak ada tindakan melawan hukum dalam proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian Prefektur Kumamoto.
Kasus bermula ketika Matao Okamura, 59, ditemukan tewas di rumahnya di Matsubase, yang kini menjadi bagian dari Kota Uki, pada 8 Januari 1985. Miyata ditangkap pada bulan yang sama setelah sempat mengakui pembunuhan tersebut, tetapi kemudian mencabut pengakuannya dan membantah keterlibatan selama persidangan.
Sayangnya, Miyata tidak sempat menyaksikan akhir perjuangan hukumnya. Ia meninggal dunia pada Oktober 2020, hanya sebulan setelah mengajukan gugatan ganti rugi terhadap pemerintah pusat dan Pemerintah Prefektur Kumamoto.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
