
Seiichi Yamaguchi, petani padi di Yaita, Prefektur Tochigi, Jepang, tetap bertani hingga usia awal 70-an berkat dukungan mesin pertanian modern (The Japan Times)
JawaPos.com - Di Yaita, Prefektur Tochigi, Jepang, Seiichi dan Sanae Yamaguchi telah menyelesaikan penanaman padi pada awal Juni. Selama puluhan tahun, kegiatan itu menjadi rutinitas setiap musim semi. Kini, mekanisasi pertanian memungkinkan pasangan yang telah memasuki usia awal 70-an tersebut tetap mengelola sawah dengan beban fisik yang lebih ringan.
Meski demikian, kemajuan teknologi menghadirkan persoalan yang lebih rumit. Mesin membuat pertanian dapat dijalankan dengan lebih sedikit tenaga kerja, termasuk dari anggota keluarga. Bagi generasi muda, kondisi itu membuka kesempatan untuk membangun kehidupan di luar pertanian. Namun, ketika petani seperti keluarga Yamaguchi pensiun, belum tentu ada anggota keluarga yang siap meneruskan lahan mereka.
Dilansir dari The Japan Times, Senin (3/8/2026), keluarga Yamaguchi merupakan gambaran dari perubahan yang berlangsung di pedesaan Jepang. Yaita berada sekitar 30 kilometer sebelah timur Nikko dan lebih dikenal sebagai wilayah pertanian serta manufaktur. Bagi Seiichi, padi memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar hasil panen.
"Padi adalah simbol pertanian Jepang. Saya merasa memiliki kewajiban untuk memproduksinya," ujarnya.
Baca Juga:Desa Makin Sepi, Beruang Makin Berani Masuk Permukiman, Jepang Beralih ke Kebijakan Depopulasi
Kini, padi juga menjadi tanaman yang paling memungkinkan bagi Seiichi untuk terus dibudidayakan. Saat lebih muda, ia menjalankan usaha tani yang lebih beragam, termasuk menanam bawang dan memelihara ternak. Sekarang, ia berfokus pada padi, sedangkan ternak yang masih mereka miliki dikelola bersama masyarakat dan berada di pegunungan.
Seiichi justru melihat teknologi sebagai alasan untuk optimistis. Menurutnya, bertani hingga usia awal 70-an hampir mustahil dilakukan jika kondisi teknologi masih seperti pada 1990-an. Ia berharap perkembangan mesin akan membuat pekerjaan semakin efisien dan tidak terlalu menguras tenaga.
Perubahan tersebut sekaligus menggeser pola pewarisan pertanian. Dahulu, seluruh anggota keluarga yang mampu bekerja dibutuhkan di lahan. Anak-anak membantu orang tua dan mengambil alih pertanian keluarga kerap dianggap sebagai kewajiban. Seiichi mengalaminya sendiri.
"Sejak kecil, saya dibuat percaya bahwa sudah menjadi takdir saya untuk mengambil peran sebagai kepala rumah tangga dan mengelola pertanian. Karena perang, tidak ada ruang bagi ambisi pribadi," katanya.
Karena itu pula, Seiichi memilih tidak menempatkan harapan tersebut kepada anak dan cucunya. Ia mengatakan keputusan mengenai masa depan mereka sepenuhnya berada di tangan masing-masing.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022