Donald Trump (Instagram @whitehouse)
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas kematian dan kerugian yang menurutnya ditimbulkan Teheran selama puluhan tahun. Tuntutan tersebut berpotensi menjadi hambatan baru dalam upaya mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Trump menyampaikan tuntutan itu ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik, serta membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Alih-alih melonggarkan tuntutan, Trump justru memperluas daftar kompensasi yang harus dibayar Iran. Ia kemudian memasukkan korban konflik di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza ke dalam tuntutannya.
Langkah tersebut diperkirakan sulit diterima pemerintah Iran. Terlebih, Teheran sebelumnya juga mengajukan tuntutan ganti rugi atas dampak perang selama lima bulan terakhir yang telah menimbulkan ribuan korban serta menghancurkan sebagian infrastruktur militer dan perekonomian Iran.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Iran harus bertanggung jawab atas kematian dan luka berat yang dialami warga Amerika dalam berbagai konflik selama beberapa dekade.
"Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran, untuk semua orang yang telah mereka bunuh dan luka parah dengan bom pinggir jalan dan banyak konflik, yang membuat mereka terkenal, seperti yang awalnya dipimpin oleh Jenderal Soleimani, termasuk keluarga mereka yang terbunuh di USS Cole, dan ribuan lainnya yang terbunuh dalam pertempuran," tulis Trump.
Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga korban demonstrasi di Iran yang menurutnya tewas akibat tindakan pemerintah selama 50 tahun terakhir.
"Selain itu, kompensasi harus dibayarkan kepada keluarga ratusan ribu pengunjuk rasa tak berdosa yang telah dibunuh Iran selama 50 tahun terakhir, belum lagi 52.000 yang telah dibunuh dalam lima bulan terakhir," lanjutnya.
Trump kemudian memperluas tuntutannya. Dalam unggahan berikutnya, ia menyatakan Iran juga harus bertanggung jawab atas kerusakan dan korban jiwa di sejumlah negara yang terlibat dalam konflik kawasan.
"Juga, sehubungan dengan negosiasi Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang disebabkan oleh rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!" tulisnya.
Tuntutan tersebut muncul ketika isu pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu fokus utama negosiasi Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur energi yang sangat strategis. Sebelum serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia disebut melewati jalur tersebut.
Karena itu, penutupan atau gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada Iran dan negara-negara Teluk. Gangguan tersebut berpotensi menekan pasokan energi global, menaikkan harga minyak, dan pada akhirnya memperburuk inflasi di berbagai negara.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022