
logo Meta dalam sebuah ilustrasi / Foto: (Axios)
JawaPos.com — Mark Zuckerberg menggeser pusat perdebatan tentang masa depan kecerdasan buatan (AI). Dalam manifesto 6.500 kata yang dirilis Senin, CEO Meta itu membela perkembangan AI dan menilai kekhawatiran umum terlalu dibesar-besarkan dibandingkan manfaat yang dapat dihasilkan.
Menurut Zuckerberg, ancaman terbesar bukan semata kemampuan AI yang semakin kuat, melainkan konsentrasi kendali. Dia lebih mengkhawatirkan satu pemerintah atau entitas menguasai teknologi tersebut. Pandangan itu muncul ketika pembuat kebijakan di berbagai negara memperdebatkan batas pengawasan terhadap model AI yang kian canggih.
Dilansir dari Axios, Rabu (12/8/2026), dalam wawancara dengan jurnalis Axios, Mike Allen, Zuckerberg mengatakan, “Salah satu cara mencapai pemberdayaan individu sekaligus mekanisme pengawasan dan keseimbangan adalah memastikan teknologi ini berada di tangan semua orang.” Zuckerberg menilai pandangan tersebut berbeda dari pandangan yang disuarakan sejumlah tokoh lain di industri teknologi.
Dalam manifesto, Zuckerberg ingin Amerika Serikat (AS) dan negara-negara demokratis memimpin pengembangan AI agar “umat manusia tetap memegang kendali atas superinteligensi sehingga teknologi itu melayani kita, bukan membahayakan kita”. Dia menyamakan AI dengan inovasi disruptif sebelumnya, ketika ketakutan terhadap perubahan akhirnya diikuti peningkatan kemakmuran, kesehatan, dan kebebasan.
“Umat manusia telah menyaksikan banyak kemajuan transformatif,” tulis Zuckerberg. “Setiap kali muncul kekhawatiran bahwa manusia akan tertinggal, pada akhirnya lebih banyak umat manusia justru menikmati kemakmuran, kesehatan, dan kebebasan.” Dia menilai kebebasan, keterbukaan intelektual, kewirausahaan bebas, dan kesempatan setara tetap relevan untuk masa depan AI.
Namun, Zuckerberg justru melihat sentralisasi sebagai ancaman utama. “Saya pribadi lebih khawatir terhadap sentralisasi daripada risiko spesifik apa pun yang dibicarakan pihak lain,” katanya. Dia memperingatkan bahwa intervensi AS yang berlebihan dapat memberi keunggulan kepada rezim lain, terutama Tiongkok, ketika selisih kemampuan teknologi dapat berubah dalam hitungan pekan.
Karena itu, dia menulis, “kebijakan apa pun yang memperlambat peluncuran model Amerika, bahkan hanya sebulan, dapat menambah risiko signifikan terhadap kepemimpinan Amerika sekaligus membiarkan model asing melaju”. Meta juga menargetkan bahwa “semua orang berhak memiliki akses gratis atau terjangkau” terhadap perangkat AI, dengan layanan berbayar menggunakan mekanisme lelang dinamis untuk memperoleh komputasi semurah mungkin. Menurut Zuckerberg, “ini akan memastikan manfaat superinteligensi tersebar secara luas”.
Arah tersebut diterjemahkan Meta lewat rencana membuka kembali sebagian model AI. Muse Glimmer disebut sebagai “salah satu model dengan kinerja tertinggi di kelas ukurannya”, sementara bobot Muse Spark 1.2 akan dibuka dalam beberapa pekan. Dewan independen Meta juga diberi kewenangan menyetujui kriteria keamanan dan meninjau kepatuhan sebelum model dirilis.
Di sisi privasi, Zuckerberg menjanjikan mode privat penuh bagi agen AI personal, sehingga “bahkan Meta atau penyedia layanan lain tidak dapat melihat atau memberikan akses terhadap informasi Anda”. Janji itu menjadi sorotan karena kebijakan Meta AI saat ini memungkinkan hampir seluruh interaksi pengguna digunakan untuk melatih sistem AI, meski mode penyamaran baru tersedia.
Sementara itu, ekspansi AI juga diarahkan ke masyarakat sekitar pusat data. Meta menyiapkan “community compact” berupa lapangan kerja lokal, investasi sekolah dan layanan publik, serta komitmen terkait harga energi dan penggunaan air.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Prediksi Skor Kroasia vs Inggris di Liga Nations UEFA: The Three Lions Redam Tuan Rumah
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022