JawaPos Radar | Iklan Jitu

Perempuan Syria Bicara Soal Patriarki

15 Maret 2019, 07:05:59 WIB
jilbab, patriarki, suriah, syria,
Perempuan yang mengenakan jilbab tertindas di masyarakat yang didominasi pria, demikian keyakinan populer di Barat. Namun Rim Dawa mengatakan di negara asalnya Suriah sangat patriarkis, masalahnya tidak sesederhana itu (DW)
Share this

JawaPos.com - Perempuan yang mengenakan jilbab tertindas di masyarakat yang didominasi pria, demikian keyakinan populer di Barat. Namun Rim Dawa mengatakan di negara asalnya Suriah sangat patriarkis, masalahnya tidak sesederhana itu.

"Kamu tertindas!" Itulah stereotip yang menghuni isi kepala kebanyakan orang-orang di Barat tentang perempuan berjilbab di dunia Arab. Benarkah demikian?

Saya teringat akan seorang teman di Suriah yang pernah mengatakan kepada saya bahwa dia membenci label pada botol parfum. "Seharusnya tidak perlu ada pemisahan parfum untuk perempuan dan pria," katanya. "Saya lebih suka wewangian yang dijual untuk pria."

Dia tidak bercanda. Tentu saja, parfum tidak terlalu penting baginya. Sebaliknya dia muak dengan situasi yang dihadapinya dan butuh napas kebebasan.

Teman saya adalah ibu dari dua anak dan bercerai pada usia muda. Dia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun yang melelahkan di pengadilan, dalam sengketa tunjangan anak. Dan ia lelah atas perasaan menjadi korban. Dia juga menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari pekerjaan yang layak, tetapi tidak berhasil.

Bagaimana patriarki mempengaruhi pemikiran paling pribadi seorang perempuan

Itulah kenyataan pahit sistem patriarki di Suriah, di mana cara terbaik untuk menjaga perempuan agar tetap terkendali adalah dengan membatasi kebebasan mereka untuk bekerja.

Sementara itu, laki-laki yang membatasi kebebasan perempuan, berpidato panjang memuji hak asasi manusia, padahal pemikiran mereka ‘masih tersangkut' di abad pertengahan.

Sebagai seorang remaja, saya biasa menulis puisi-puisi naif. Seperti teman-teman sebaya saya, saya akan menulis nama "Suriah" dalam puisi saya sebagai seolah-olah kekasih saya, karena saya tidak berani menorehkan nama anak lelaki yang saya kagumi dengan tinta. Sebagai gantinya, saya menyembunyikan nama itu dengan nama negara, untuk menghindari anggapan dan reputasi buruk dari masyarakat.

Anak laki-laki bebas menyukai gadis-gadis dan tidak perlu malu untuk mengekspresikan perasaan mereka. Sebaliknya, sebagai anak perempuan, kami tidak diberikan hak istimewa yang sama.

Moral campuran

Saya tidak akan pernah melupakan tatapan dan komentar yang saya dapatkan ketika saya mengendarai sepeda di depan umum pada usia 20 tahun. Naik sepeda itu wajar jika saya seorang pria, namun dianggap tabu bagi perempuan dewasa.

Sepeda, tentu saja, hanyalah permulaan. Lainnya? Tabu bagi perempuan untuk hidup sendirian, bepergian sendirian atau bahkan berjalan di malam hari. Di banyak tempat, mereka tidak diizinkan memiliki teman pria - dan sekolah menengah dipisahkan berdasarkan jenis kelamin.

Ketika tinggal di Jerman, saya kagum saat saya melihat perempuan berada di kantor-kantor politik. Kanselirnya pun perempuan, yakni Angela Merkel. Saya hampir tidak ingat apakah ada perempuan duduk di parlemen atau kementerian Suriah.

Perdebatan besar soal burkini dan jilbab

Ketika kontroversi burkini muncul di Eropa, di mana beberapa wilayah berniat melarang pakaian renang seluruh tubuh yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim, saya jadi teringat cerita teman Suriah lainnya.

Di Jerman, dia mendapat beberapa pertanyaan ‘ajaib‘ tentang jilbabnya. Misalnya, apakah dia sebenarnya berambut dan apakah dia harus mandi lengkap dengan jilbab di kepalanya.

Yang lain menyarankannya untuk melepas jilbab, karena dia sekarang tinggal di Jerman dan bebas untuk melakukan itu. Sangat sulit baginya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa mengenakan jilbab adalah pilihan pribadinya; dia tidak dipaksa untuk mengenakannya.

Jadi, meskipun rambutnya tertutup, pemikirannya terbuka, dia punya ambisi dan ia pun berpendidikan. Namun, bagi banyak orang Jerman dan Eropa, jilbab tetap menjadi simbol penindasan.

Kenapa saya tidak memakai jilbab

Di sini, di Jerman, saya sering harus menjelaskan mengapa, tidak seperti teman saya, saya tidak mengenakan jilbab. Saya tumbuh di kota Salamiyah yang relatif liberal, di mana penutup kepala bukan suatu keharusan bagi perempuan. Namun, ketika saya bepergian ke daerah lain, seperti Hama, saya menghormati kebiasaan setempat dalam berbusana.

Beberapa perempuan mengenakan jilbab karena keyakinan agama mereka sendiri, yang lain memilih untuk tidak mengenakannya karena keyakinan atau pola asuh dalam keluarganya. Tetapi bagi saya, jilbab adalah pilihan perempuan dan bukan merupakan tanda penindasan dari masyarakat patriarki.

Kami punya cukup kebebasan lain yang dibatasi oleh orang-orang yang berkuasa. Dan meskipun komunitas saya tidak memiliki masalah dengan perempuan tak berjilbab, sisa kebebasan kami terbatas.

'Saya tidak akan menyerah'

Menengok ke belakang, saya tetap berbesar hati dengan langkah-langkah kecil kemajuan yang telah dibuat masyarakat Suriah menuju kesetaraan gender.

Meskipun tidak ada undang-undang yang diubah dan laki-laki masih memegang kendali, saya mengamati bahwa jumlah perempuan Suriah yang sadar akan hak-hak mereka - seperti teman saya yang suka parfum pria - terus bertambah.

Saya berharap, semakin banyak perempuan bisa menyuarakan hati mereka dan tidak hanya merasa bebas, tetapi juga menjalani kebebasan mereka.

Sementara itu, teman saya di Suriah masih berusaha meninggalkan negara itu untuk melindungi anak-anaknya dari perang yang sedang berlangsung, namun ayah anak-anak itu menolak memberi mereka izin untuk pergi.

Namun demikian, dia tidak akan pernah berhenti berusaha. Dia mengatakan kepada saya, "Saya mungkin teraniaya, tetapi saya tidak akan menyerah."

Saya dapat merasakan kepedihannya, karena saya juga mengalami persekusi di Suriah hanya karena jenis kelamin saya.

Di sini di Jerman, saya merasa aman, terlindungi, dan bebas. Tapi saya kini istirahat sejenak dari bersepeda, hingga memar yang saya alami akibat jatuh dari sepeda baru-baru ini benar-benar sembuh.

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter      : Rim Dawa

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini