
Ilustrasi tradisi berbuka puasa pada bulan Ramadhan (Freepik)
JawaPos.com – Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu berpuasa dan meningkatkan ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia.
Di berbagai negara, Ramadan juga diwarnai tradisi khas yang tumbuh dari sejarah, budaya, dan nilai sosial setempat.
Tradisi-tradisi tersebut menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya lintas generasi.
Berikut 6 tradisi Ramadan yang masih dijalankan di sejumlah negara hingga kini, seperti dilansir dari laman Karam Foundation pada Rabu (11/2).
Di Mesir, Ramadan identik dengan hiasan lampion warna-warni yang dikenal sebagai Fanoos. Lentera tersebut menghiasi jalanan, rumah, dan pusat kota selama bulan suci. Fanoos melambangkan kegembiraan, persatuan, dan semangat kebersamaan umat Muslim. Tradisi ini diyakini bermula pada masa Kekhalifahan Fatimiyah pada abad ke-10. Sejak saat itu, Fanoos berkembang menjadi simbol visual Ramadan di Mesir.
Di Turki, ribuan penabuh gendang berkeliling lingkungan untuk membangunkan warga saat sahur. Para penabuh gendang mengenakan pakaian tradisional Ottoman seperti rompi dan fez. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan tetap dijaga hingga kini. Pemerintah setempat bahkan memperkenalkan kartu keanggotaan resmi bagi para penabuh gendang. Langkah tersebut bertujuan melestarikan tradisi di tengah modernisasi.
Di Uni Emirat Arab, anak-anak merayakan Ramadan melalui tradisi Haq Al Laila. Tradisi ini berlangsung pada pertengahan Ramadan dengan kegiatan berkeliling lingkungan. Anak-anak mengenakan pakaian berwarna cerah sambil menyanyikan lagu tradisional. Mereka mengumpulkan permen dan hadiah dari warga sekitar. Tradisi ini menekankan nilai kebersamaan, kedermawanan, dan ikatan sosial.
Di Maroko, keberadaan Nafar menjadi bagian penting dari suasana Ramadan. Nafar adalah penyeru kota yang berkeliling saat fajar untuk membangunkan warga sahur. Ia mengenakan pakaian tradisional dan meniup terompet khas. Sosok Nafar dipilih berdasarkan kejujuran dan empati terhadap masyarakat. Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ketujuh dan masih dipertahankan.
Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Ramadan diawali dengan tradisi Padusan. Padusan merupakan ritual mandi sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci. Tradisi ini berakar dari ajaran Islam yang disebarkan oleh Wali Songo. Masyarakat biasanya melaksanakan Padusan di mata air atau sungai. Padusan menjadi perpaduan antara nilai agama dan budaya lokal.
Di Suriah, waktu berbuka puasa ditandai dengan dentuman meriam yang dikenal sebagai Midfa al Iftar. Tradisi ini diadopsi dari Mesir sejak lebih dari dua abad lalu. Dentuman meriam menjadi penanda resmi berakhirnya waktu puasa harian. Tradisi tersebut kemudian menyebar ke sejumlah negara Timur Tengah lainnya. Hingga kini, Midfa al Iftar tetap menjadi simbol Ramadan yang ikonik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022