JawaPos Radar

Lagi Tren, Remaja Jateng Nge-Fly dengan Air Rebusan Pembalut

06/11/2018, 19:03 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Mabuk Air Rebusan Pembalut
ILUSTRASI: Remaja di Jawa Tengah tengah kecanduan air rebusan pembalut. (dok. Radar Karawang/JawaPos Group)
Share this

JawaPos.com - Sulitnya mendapat narkotika jenis sabu karena faktor biaya oleh beberapa pihak tak dipandang sebagai jalan buntu. Zat-zat tertentu terkandung dalam berbagai obat-obatan bahkan benda tak lazim pun dikonsumsi sebagai alternatif lain pemicu efek mirip memakai serbuk kristal metafetamin. Mulai dari memakan jamur kotoran sapi hingga meminum air rebusan pembalut bekas.

Kabid Brantas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah AKBP Suprinarto mengatakan, salah satu hal yang membuat sabu sulit didapat adalah harga belinya. Oleh beberapa pihak, terutama kalangan menengah bawah dinilai mahal. 

"Karena mahal itu, muncul alternatif lain. Seperti mengonsumsi jamur telethong (kotoran sapi), lalu nyair. Obat seperti bodrex, tramadol, heximer, komix, obat nyamuk bakar itu, ditumbuk terus diminum sehingga kata mereka menimbulkan efek seperti mengonsumsi sabu," katanya saat dijumpai di kantornya, Semarang, Senin (5/11).

Bahkan, menurut Supri, ada yang lebih ekstrem lagi. Bisa dibilang menjijikan malah. "Jadi, pembalut bekas pakai itu, direndam. Air rebusannya diminum. Yang bikin fly itu kandungan dalam pembalut yang digunakan untuk menyerap air (haid)," ujarnya.

Supri mengaku sudah menemukan kasus macam itu di wilayahnya. Kebanyakan pelakunya adalah anak-anak muda yang mendiami wilayah pinggiran kota. Seperti di Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur. 

Untuk kasus 'nyair' tadi, di beberapa daerah bisa dibilang berlangsung sudah cukup lama. Akan tetapi, rebus pembalut masih tergolong baru di Jawa Tengah. Mereka yang mengkonsumsi, rata-rata berumur 13-16 tahun dan didominasi anak jalanan.

"Di Baturaden, ada namanya kunyitan. Dibentuk dalam satu minuman suplemen tapi isinya bermacam-macam obat. Dijual Rp 300 sampai 400 ribu per botol. Mereka itu bersugesti kalau dipakai itu efeknya mendekati sabu," katanya.

Dalam hal ini, diakui Supri, BNN sendiri sebenarnya tidak bisa menindak mereka lantaran tak ada dasar hukumnya. Karena memang bukan termasuk dalam kategori zat-zat berbahaya atau terlarang. Hanya saja penyalahgunaan terjadi di sini.

Namun, bukan berarti BNN tinggal diam. Yang mendorong adanya penindakan tak lain adalah rasa kekhawatiran akan fenomena ini. "Yang mereka pakai adalah barang legal. Tapi dikonsumsi tak sesuai aturan, sehingga dampaknya seperti orang pakai narkoba. Langkah kami supaya ada edukasi bahwa ada barang-barang bukan narkotik-psikotropik secara undang-undang tapi bisa disalahgunakan," terangnya panjang.

Sementara itu, Indra Dwi Purnomo, Dosen Fakultas Psikologi Universtias Katholik Soegijapranata (Unika) mengatakan, sebenarnya fenomena merebus pembalut ini sudah lama ditemukan di daerah Karawang, Belitung, dan Jogjakarta. Rata-rata pelakunya nekad melakukannya karena sifat dasar manusia yang selalu mengejar kesenangan.

"Pengonsumsi ini kan mayoritas anak jalanan atau mohon maaf dari keluarga kurang mampu. Nah, ketika dalam kondisi tertekan, ingin senang dan karena keterbatasan modal, anak-anak muda ini jadi suka bereksperimen. Mulai dari yang legal-legal dulu dari antimo, lalu komix, akhirnya nyair bahkan minum rebusan softex," ujarnya.

Psikolog yang konsen di bidang adiksi ini mengungkap, sebenarnya fenomena mengonsumsi pembalut bekas ini tak dilakukan oleh para pemakai sabu pada umumnya. Banyak dari mereka yang mengaku anti. "Jadi seperti ada kasta, ya sebenarnya latar belakangnya sama. Butuh happy, tapi yang satu (pemakai sabu) punya uang, dan yang nyair dan pembalut tidak. Jadi ini masalah mental juga sampai bisa beralih ke situ," terangnya.

Penanganan dalam hal ini, lanjut Indra,  sudah seharusnya dari hulu. Mencari tahu penyebab muncul rasa mencari kesenangan itu, karena kecanduan tidak hanya dipandang dari sisi fisik tapi secara psikologis pula. Intervensi psikolog dilakukan melalui sudut pandang pre-kontekstual dan pre-kontekstual konteks.

"Pre-kontekstual kita hanya lihat di kulitnya. Di adiksi, memakai sabu, merebus softex buat mabuk nah kita atasi dengan terapi dan sebagainya. Cuma kita perlu juga mengatasi sumbernya, butuh kebahagiaan itu tadi. Sumbernya bisa di keluarga, lingkungan kita intervensi. Pre-kontekstual konteksnya itu. Jadi bukan pada rehab saja, tapi preventif yang juga perlu dilakukan oleh berbagai pihak. Tak cuma BNN," terangnya panjang.

Langkah preventif ini, menurutnya vital untuk diterapkan. Kata Indra, ketika pendidikan di keluarga dan lingkungan dilakukan dengan benar, kasus-kasus narkotika atau penyalahgunaan zat-zat tadi bisa dicegah. Melihat pada dasarnya manusia selain terlahir sebagai makhluk pencari kesenangan, juga sosial.

"Pusing sedikit, pingin seneng. Ditawarin barang temannya kalau nggak pakai dikira nggak srawung. Oleh karena itu, waktu para perebus softex itu ketangkap, terungkap masih banyak di luar sana yang belum tertangani. Jadi pembelajaran di keluarga itu pointnya. Ketika anak sudah tahu, saat ditawari mereka akan menolak. Ketika masyarakat sudah happy, tak ada tekanan di keluarga, anak-anak tak lari ke hal itu," cetusnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up