JawaPos Radar

Produk Pangan Berbahan Limbah Tahu

10/08/2018, 09:36 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Olahan Limbah Tahu
PRODUK: Salah satu produk pangan dari limbah tahu, yakni nata de soya. (Dok. Humas Universitas Brawijaya)
Share this

JawaPos.com - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) tak henti-hentinya menelurkan inovasi. Sekarang giliran Fitri Rachmadita, Hairil Fiqri, M. Nugrah Fadhillah, Sarah Devi, dan Nabilah Rizka.

Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) itu mengembangkan Super Soya (Sustainable Utilization and Production System of Soya By-Product) yang merupakan inovasi produk pangan kaya gizi dengan memanfaatkan limbah tahu. Hasil produknya seperti nata de soya, abon tahu serta minuman probiotik.

Ketua tim, Fitri Rachmadita menjelaskan, tahu merupakan produk olahan berbasis kedelai yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Termasuk di Malang.

Universitas Brawijaya
INOVATIF: Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP-UB) berhasil mengubah limbah tahu menjadi produk pangan kaya gizi. (Dok. Humas Universitas Brawijaya)

Salah satu daerah produsen tahu di Kabupaten Malang adalah Dusun Tegal Pasangan, Desa Pakiskembar. Di sana ada lebih dari 11 rumah produksi tahu. Warga setempat mampu mengolah 100-1.000 kg kedelai menjadi tahu setiap harinya.

Produktivitas tinggi ini mampu menghasilkan 8 karung ampas padat dan 7 drum atau sekitar 28.000 liter limbah cair (whey) setiap harinya. Dari pengolahan tahu putih, tak jarang juga mengakibatkan berbagai masalah lingkungan.

Padahal whey tahu banyak mengandung protein, karbohidrat, dan bahan-bahan lain yang bermanfaat bagi kesehatan jika diolah dengan benar. "Hal ini yang kemudian melatari kami merancang Super Soya," ujar Fitri.

Super Soya merupakan program pelatihan penanganan dan pemanfataan limbah produksi tahu melalui pengolahan limbah terpadu menjadi produk bernilai jual tinggi. Dalam program ini, ibu-ibu PKK dan karang taruna di Dusun Pakis Kembar. diberikan pelatihan pengolahan limbah menjadi sebuah produk pangan.

Limbah tahu baik berupa padat (ampas) maupun cair (whey) akan diolah menjadi tiga produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Limbah cair tahu (whey) akan diolah menjadi produk nata de soya dan minuman probiotik. Sedangkan limbah padat tahu akan diolah menjadi produk abon tahu," jelas Fitri.

Selama ini, umumnya masyarakat hanya mengenal nata de coco yang berbahan kelapa. Padahal nata de soya dari limbah tahu tidak kalah lezat dan bergizi tinggi. "Proses pembuatannya relatif mudah karena hanya membutuhkan pemanasan dan penambahan gula, cuka serta starter saja," imbuhnya.

Demikian juga dengan abon tahu berbahan ampas yang prosesnya mirip dengan pembuatan serundeng kelapa. Yakni, cukup ditambah bumbu dan disangrai hingga kering.

Selain pemanfaatan limbah tahu, Super Soya juga memiliki program pelatihan pengemasan dan pemasaran produk yang dihasilkan. "Harapannya, program kami dapat mengangkat taraf ekonomi penduduk sekitar. Sekaligus mengatasi masalah lingkungan atas program pengolahan by-product berbasis zero waste Super Soya,” harap Fitri.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up