JawaPos Radar | Iklan Jitu

115 Nasabah BRI Tertipu Rp 1,4 Miliar

11 Januari 2019, 13:25:38 WIB
Penipuan Berkedok BRI
Ekspos penangkapan 2 tersangka sindikat penipuan online di Mapolda Sulsel, Jumat (11/1). (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Ditreskrimsus Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) mengungkap kasus penipuan online yang mengatasnamakan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tak tanggung-tanggung, korbannya 115 nasabah dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 1,4 miliar. Korban tersebar di sejumlah daerah di Indonesia dan aksi penipuan berlangsung sejak Oktober 2018.

Ungkap kasus bermula dari laporan pihak BRI. Sebulan berselang atau akhir Desember lalu, polisi akhirnya menangkap dua dari tujuh sindikat penipuan tingkat nasional ini. Adalah Suparman, 30, dan Sudirman, 34, warga Kabupaten Sidrap, Sulsel.

"Ini pengembangan dari laporan pihak BRI dari nasabahnya. Kemudian diteruskan ke kami dan ditindaklanjuti setelahnya," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani dalam ekspose di Mapolda Sulsel, Jumat (11/1).

Dalam menjalankan aksinya, pelaku membuat website palsu yang mirip BRI. Anggota sindikat kemudian membagi peran masing-masing. Suparman bekerja sama dengan Nursyam yang saat ini masih berstatus daftar pencarian orang (DPO).

Nursyam menawarkan pinjaman kepada para korban yang dihubungi secara acak melalui nomor pribadi. Untuk mendapatkan pinjaman, korban harus memiliki rekening BRI yang terdaftar di Internet Banking. Syarat lainnya, nasabah harus memiliki dana sekitar 10 persen dari total dana yang akan dipinjam.

Selanjutnya, Nursyam mengirimkan sebuah link website palsu BRI dan meminta korban mengisi data-data pribadi. Termasuk nomor PIN nasabah. "Dengan terisinya data korban pada website tersebut, maka terekamlah data korban. Sehingga pelaku dapat dengan mudah mengambil yang ada di rekening korban," ungkapnya.

Sudirman bersama rekannya juga membuat modus yang sama dengan menyebarkan SMS secara acak untuk pinjaman online dengan kedok perusahaan pembiayaan bernama Asia Finance.

"Sama seperti Suparman, tersangka ini bersama rekan lainnya yang masih menjadi DPO kemudian menuntun korban agar mengisi data pribadi mereka," lanjut Dicky.

Selain mengamankan dua tersangka, polisi sekaligus menyita sejumlah alat bukti yang digunakan dalam beraksi. Seperti belasan unit modem, 7 unit laptop, buku tabungan, dan belasan handphone. Kini, polisi masih memburu tersangka lainnya. Adalah Nursyam, Iksan, Cambang, Ucing, dan Elma.

Akibat perbuatannya, tersangka disangkakan melanggar pasal 35 ayat 1 juncto pasal 51, pasal 28 ayat 1, pasal 36 ayat 1, dan pasal 45 ayat 1 Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Mereka diancam pidana 12 tahun penjara dan denda maksimal Rp 12 miliar.

Editor           : Sofyan Cahyono
Reporter      : Sahrul Ramadan
Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up