JawaPos Radar | Iklan Jitu

Dugaan Kekerasan di ATKP Makassar

Taruna Disebut Disuruh Makan Sabun Hingga Minum Air Bekas Kumur

11 Februari 2019, 09:31:45 WIB
ATKP Makassar
Kampus ATKP Makassar, Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dugaan kekerasan terhadap taruna-taruni di Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar perlahan mulai terungkap. Terbaru, tradisi tersebut menewaskan taruna tingkat I Aldama Putra Pongkala, 19.

Korban diduga tewas setelah dianiaya seniornya, M Rusdi, 23, di dalam salah satu kamar di kampus ATKP Makassar. Ayah korban, Pelda Daniel Pongkala mengungkapkan sejumlah fakta terkait aktifitas kekerasan fisik di lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut.

Daniel mengaku menerima sejumlah lapora dari orang tua taruna-taruni yang saat ini masih mengeyam pendidikan di ATKP Makassar. Menurut laporan tersebut, penganiayaan terhadap taruna-taruni junior melibatkan pembina internal kampus.

Daniel Pongkala
Ayah mendiang Aldama Putra Pongkala, Pelda Daniel Pongkala menceritakan laporan kekerasan di ATKP Makassar. (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)

"Laporan masuk ke saya bahwa katanya mereka disiksa langsung pembinanya. Atas nama Pak Irfan. Itu bukannya membina tapi menyiksa. (Beberapa) Taruna-taruni disiksa, kakinya memar-memar sampai di paha," kata Daniel menceritakan laporan dari sejumlah orang tua taruna-taruni ATKP Makassar, Senin (11/2).

Dalam laporan itu, pembina bernama Irfan disebutkan tak segan melakukan penganiayaan terhadap taruni (pelajar perempuan) yang dianggap melalukan kesalahan. Tindakan tersebut dianggap sangat tidak manusiawi.

"Ini taruni yang disiksa sama pembina laki-laki. Seandainya yang menyiksa di situ adalah pembina perempuan, mungkin tidak seperti itu. Bahkan orang tua menyampaikan ke saya bahwa ada yang dikasih makan sabun dan ada yang disuruh kumur-kumur, (air) disatukan satu tempat baru disuruh minum kumur-kumur itu," ucap Daniel.

Anggota TNI AU itu menilai, tindakan yang dilakukan terhadap taruna-taruni di kampus ATKP Makassar sangat keterlaluan. Tidak mencerminkan sikap mendidik. "Itu bukan didikan. Tidak berperikemanusiaan kalau seperti itu. Itu (taruna-taruni) bukan militer. Itu sangat biadab kalau tindakan seperti itu," tegas Daniel.

Terkait kasus yang menimpa putra tunggalnya, Daniel menduga ada keterlibatan pihak internal ATKP. Pihak kampus terkesan menutup-nutupi oknum-oknum yang terlibat, selain taruna senior. "Semua pengasuh, pembina, harus diperiksa semua. Tidak mungkin taruna bisa ambil tindakan kalau tidak ada contoh dari pengasuh dan pembinanya," jelas Daniel.

Informasi lain yang diterima Daniel, sejumlah tenaga pengajar menolak kembali memberikan pendidikan kepada taruna-taruni ATKP apabila Irfan belum dicopot dari jabatannya. Selain pembina, Irfan juga menjabat sebagai Pembantu Direktur (Pudir) III ATKP Makassar.

"Ini informasi. Baru informasi yang saya dengar ini. Kalau dosen-dosen tidak akan mengajar di dalam apabila Pak Irfan tidak dicopot dari situ," terang Daniel.

Terpisah, Pudir III ATKP Irfan menampik terlibat aksi penganiyaan kepada sejumlah taruna-taruni di dalam kampus. "Kaget juga kalau ada yang mengatakan seperti itu. Kami berharap harus bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan," sambung Irfan.

Irfan menyatakan, tudingan itu tidak berdasar dan tidak benar. Ia meminta agar tudingan dibuktikan. Bahkan, Irfan menantang orang yang menudingnya melakukan penganiayaan kepada taruna-taruni untuk lapor ke pihak berwajib. "Jika nama saya dikatakan ikut melakukan tindakan kekerasan, silakan dilaporkan dengan resmi sesuai dengan prosedur yang berlaku," tantang Irfan.

Editor           : Sofyan Cahyono
Reporter      : Sahrul Ramadan

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up