JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sebelum Meninggal, Korban Reruntuhan Tembok SDN 141 Sempat Minta Maaf

14 November 2018, 19:20:59 WIB
Insiden Tembok Ambruk
KORBAN JIWA: Pemakaman Yanitra Octavizoli siswi kelas 3 SMA 14 Pekanbaru di Taman Makam Pahlawan Kerja, Pekanbaru, Riau, korban dari runtuhnya tembok SDN 141 Pekanbaru, Rabu (14/11) siang. (Virda Elisya/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Heldi Demaris kawan sebangku Yanitra Octavizoli, selama tiga tahun menimba ilmu di SMA 14 Pekanbaru, tidak merasakan firasat apa pun sebelum korban meninggal. Namun, Selasa (13/11) malam, ketika mengakhiri chat-nya di WhatsApp, korban sempat meminta maaf kepada Heldi.

"Semalam kami chat biasa aja. Bercanda juga. Tapi pas terakhir chat dia minta maaf. Minta maafnya katanya karena sifatnya udah berubah dari sebelumnya," ujar Heldi saat ditemui di acara pemakaman Yanitra di Taman Pemakaman Pahlawan Kerja, Pekanbaru, Riau, Rabu (14/11) siang.

Yaya, sapaan akrab gadis berusia 17 tahun itu, merupakan salah satu korban dari insiden runtuhnya tembok SDN 141 Pekanbaru, Rabu (14/11) sekitar pukul 07.00 WIB. Ia dinyatakan meninggal dunia 30 menit setelah tertimpa reruntuhan.

Insiden Tembok Ambruk
Wali Kelas Yanitra Octavizoli Kelas XII IPS 2, Miskar Wati, saat menghadiri pemakaman anak didiknya di Taman Makam Pahlawan Kerja di Pekanbaru, Riau, Rabu (14/11). (Virda Elisya/JawaPos.com)

Oleh teman-temannya, Yaya yang duduk di kelas XII IPS 2, dikenal sebagai orang yang ramah, periang, tidak pelit, serta pintar. Kematian Yaya tentunya mengagetkan seluruh teman serta guru di sekolahnya. "Terkejut aja nggak percaya," ungkap Heldi dengan mata berkaca-kaca.

Selain itu, ketika berkumpul dengan teman-teman sekelasnya, Yaya juga sempat mengajukan ide untuk mengajak mereka jalan-jalan. "Sebelum meninggal hari Selasa kemarin dia ngajak jalan-jalan. Tapi belum tahu ke mana," sebutnya.

Kepada sahabatnya itu pula, Yaya yang menggemari pelajaran Bahasa Inggris ingin melanjutkan pendidikannya di Kota Bandung. "Rencananya dia mau kuliah di ITB. Nilainya kan bagus-bagus," ucapnya.

Sementara itu, wali kelas Yaya, Miskar Wati mengungkapkan rasa duka citanya usai pemakaman. Ia tak menyangka atas kepergian anak didiknya tersebut. Di mata Miskar, Yaya merupakan murid yang tidak pernah bermasalah di sekolah. 

Sejak menjadi wali kelas, Miskar tidak pernah memanggil orang tua Yaya. "Dia penurut, tidak banyak cerita. Kami sedih sekali, teman-temannya juga karena mendadak," kata Miskar.

Miskar menyebut Yaya sebagai siswa yang pintar. Meski tidak pernah ranking satu hingga tiga, Yaya terbilang pandai karena selalu masuk sepuluh besar. "Kalau semester ini kan belum terima rapor, dia siswa yang pandai," kata dia

Sebelum kejadian, Miskar menyebut memang ada perubahan terhadap sikap Yaya. Siswi yang sebelumnya pendiam ini menjadi aktif sewaktu belajar dan selalu menjawab pertanyaan yang diajukan guru. "Ini mungkin sebagai pertanda bagi kami, jadi setiap pelajaran langsung menyambung dengan cepat," pungkasnya.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : (ce1/ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini