
Sejumlah warga bermain dan beraktivitas di sekitaan tumpukan limbah kerang hijau di Jalan Kalibaru Timur, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (24/1)
JawaPos.com - Di balik hutan beton yang berdiri kukuh dan deru mesin kendaraan yang dibalut dengan fisik kendaraan mengilap, ada semacam kerinduan untuk hidup yang lebih baik bagi masyarakat yang tinggal di ujung ibu kota. Mereka berkerumun hidup dengan total 15 RT di Kampung Kerang Hijau, Cilincing, Jakarta Utara.
–––
SREK-SREK, itu merupakan suara gesekan pisau berukuran kecil ke kulit kerang hijau. Pisau itu dipegang Sri Rahayu (bukan nama sebenarnya). Saking kecilnya ukuran pisau yang hanya sekitar 8 cm, yang terlihat hanya tangan Sri. Dia tak menghiraukan rengekan bayi yang digendongnya. Orok yang belum genap berusia setahun itu telah bersahabat dengan bau amis kerang hijau. Orang Cilincing menyebutnya bau kijing.
Setiap hari, Sri selalu hadir di rumah bos pengepul kijing, Sulastri (bukan nama sebenarnya). Kecuali jika tubuhnya terasa pegal. Pukul 10.00–16.00, dia berjibaku dengan bau amis kijing. Dia sibuk membersihkan kotoran kijing, lalu memastikan kerang tersebut bersih ketika diserahkan kepada pengepulnya.
"Suami saya minggat sudah lama. Saya tinggal di sini sejak kecil. Itu anak keempat saya. Usianya masih 7 bulan. Anak pertama saya diberikan kepada orang. Katanya, mau dibantu asuh. Kalau anak kedua dan ketiga ada di rumah. Mereka masih kelas IV SD (anak kedua, Red) dan tak sekolah (anak ketiga),’’ kata Sri.
Sehari, dia membawa uang Rp 65 ribu. Angka tersebut, bagi dia, cukup besar. Itu mampu membuat dapurnya mengepul. "Nggak cukup buat beli susu adik sih, sebenarnya. Tapi ya mau gimana lagi. Saya nggak bisa kerja di mana-mana," imbuhnya.
Sulastri memberikan upah Rp 5 ribu setiap satu ember berukuran 7 kg. Sri selalu berdoa hasil nelayan Sulastri meluber. Dengan begitu, dia bisa membawa rupiah yang banyak. Perempuan kelahiran 1980 itu pernah mengantongi uang hingga Rp 90 ribu. Sebab, dia mampu membersihkan 126 kg kijing alias 18 ember.
Namun, sejak ribuan ton tanah diguyur di lautan untuk proyek reklamasi, pendapatan kijing melemah. Jumlah kijing yang dibawa pulang tak lagi gemuk. "Sekarang, setelah ada reklamasi, sedikit banget kijing yang dibawa pulang. Belum lagi, tukang bersih kijing juga banyak kan," katanya. Dia lalu mengembuskan napas panjang.
Bayinya kembali merengek setelah diam beberapa menit. Padahal, dot menempel di bibir orok Sri. Namun, ketika dilihat lebih dekat, bukan air susu yang dikenyot bayi tersebut. ’’Ah, ternyata air dot habis ya, Nak. Ini tadi air dot yang saya campur dengan susu saset yang Rp 1.000. Satu saset, saya bagi jadi lima kali tuang untuk anak,’’ ucapnya lalu mengusap kening anaknya.
Sri terlihat lihai membuat buah hatinya tenang. Mungkin karena dia telah beranak hingga empat kali. Bayinya tidak lagi menangis setelah dia mengusap dan meniup kening bayinya. Tubuh Sri tampak kurus. Tone kulitnya cenderung cokelat gelap. Paparan sinar matahari pesisir begitu kejam hingga membuat pigmen kulitnya berubah gelap. Sayang, dia tak begitu menghiraukan kondisi tersebut.
Dia tidak lagi mengenal konsep cantik itu berkulit putih langsat. Kini, yang dikenalnya hanyalah bagaimana dia memberi makan buah hatinya. Tak ada uang yang disisihkan untuk membeli krim kecantikan atau treatment kecantikan.
Dulu, ibu dan ayahnya adalah pengepul kijing. Sri merupakan anak satu-satunya. Hidup Sri sempat enak. Dia pernah merasakan bangku sekolah. Namun, takdir harus berkata lain. Kenangan kelam itu masih mengental pada darahnya. Dia tak mungkin bisa melupakan kenangan tersebut dengan cepat.
Kapal kayu ayahnya pecah dicabik ganasnya ombak. Mendengar kabar bahwa ayahnya tidak selamat, ibunda Sri terkejut. Tidak kuat mental, sang ibu terserang stroke dan menyusul ke liang lahad. Ini bukan cerita sinetron. Ini nyata terjadi. ’’Sudah lama kejadiannya. Sekitar 1990-an lah,’’ tuturnya.
Pil pahit ditelannya tanpa dikunyah. Sri harus bertahan hidup. Bangku sekolah ditinggalkan. Dia memutuskan untuk bekerja sebagai pembersih kijing hingga kini. Gagal berumah tangga hingga tiga kali membuat Sri kapok untuk menikah lagi. Pernikahan yang terakhir paling mengerikan baginya. Sayang, dia enggan bercerita kepada koran ini. Kini, Sri tidak lagi tinggal di rumah berbatu bata dan dibangun di atas tanah. Dia tinggal di rumah yang dibangun di atas limbah kulit kerang. Sangat sederhana.
Berdasar pantauan Jawa Pos, ada beberapa rumah kecil yang dibangun di atas kulit kerang bekas. Sulastri menuturkan, tumpukan limbah kerang membentuk sebuah daratan. Sebelumnya, tanah yang dibuat untuk membangun rumah oleh beberapa warga adalah perairan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
