Ilustrasi TKP (Freepik)
JawaPos.com - Kasus mutilasi yang terjadi di Kabupaten Sleman, Jogjakarta menggemparkan Tanah Air beberapa hari belakangan. Sebenarnya, kasus ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Di tahun ini saja, sudah ada 4 kasus mutilasi yang ramai diberitakan, yakni kasus Wowon si pembunuh berantai, kasus koper merah di Bogor, kasus pembunuhan perempuan di Kaliurang, hingga yang terbaru kasus mahasiswa UNY.
Jika mundur beberapa tahun ke belakang, kita akan menemukan beberapa kasus pembunuhan kejam yang disertai mutilasi, seperti kasus Ryan Jombang hingga kasus mutilasi Setiabudi 13, yang hingga kini belum terungkap.
Lantas, mengapa sebagian pembunuh memutilasi korbannya? Apakah hanya lantaran untuk menghilangkan jejak, atau terdapat motif dan alasan psikologis yang lain?
Untuk mengetahui hal tersebut, JawaPos.com sudah merangkum psikologi dibalik pelaku pembunuhan yang memutilasi korbannya, dilansir dari berbagai sumber.
Seorang psikolog asal Thailand, Wanlop Piyamanotham, berpendapat bahwa pembunuh yang memotong tubuh korbannya seringnya diakibatkan oleh perasaan dendam. Mutilasi bisa menjadi sebuah ungkapan pelepasan dendam yang dipendam sejak lama.
Sebuah studi menunjukkan bahwa mereka yang akrab dengan pemotongan daging dipengaruhi oleh pekerjaan mereka sebelumnya – seperti profesional medis atau tukang daging. Pembunuh yang terbiasa menyembelih atau memotong hewan juga akan lebih terbiasa memutilasi daging manusia.
Pelaku mutilasi bisa jadi adalah korban tindak kejahatan di masa lalu. Perasaan trauma, rasa sakit, dan amarah, memungkinkan korban untuk melepaskan perasaan tersembunyi di kemudian hari.
Dalam hal ini, Wanlop, memberikan contoh kasus Songkhla di mana seorang anak laki-laki melihat orang tuanya dibunuh dengan cara dicekik. Dia selamat dan di masa dewasa melakukan kejahatan serupa, yakni mencekik dan memotong-motong korbannya.
Natee Jitsawang, seorang kriminolog asal Thailand, mengatakan para pembunuh yang memotong-motong tubuh korbannya sering menunjukkan perilaku menyimpang lainnya dan kecenderungan kekejaman yang berlebihan.
Meskipun tidak dijelaskan perilaku menyimpang yang seperti apa, Natee mengatakan bahwa pelaku biasanya terlihat seperti orang normal pada umumnya, meskipun mungkin sangat tertutup.
Sementara itu, menurut penelitian yang dilakukan para akademisi Finlandia yang berjudul Homicides with Mutilation of the Victim’s Body, para peneliti membagi motif mutilasi menjadi 5 jenis.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
