Foto viral kematian Mahasiswa Unnes Iko Juliant Junior diduga karena dianiaya polisi. (Istimewa).
JawaPos.com - Kematian tragis Iko Juliant Junior, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2024, pada Minggu (31/8), menambah panjang daftar korban jiwa yang diduga terkait dengan represi aparat dalam penanganan aksi demonstrasi mahasiswa.
Polisi menyebut Iko tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Dr. Cipto, Semarang, sekitar pukul 02.30 WIB. Namun, berbagai kejanggalan terungkap.
Terutama saat keluarga menjumpai adanya luka-luka pada tubuh korban dan keterlambatan penanganan medis, yang membuat keluarga serta kalangan alumni menduga ada unsur kekerasan.
Mengutip Radar Solo (Grup JawaPos), Iko dilarikan ke RSUP dr. Kariadi dalam kondisi kritis oleh kendaraan Brimob Polda Jateng pada Minggu pagi, hampir delapan jam setelah waktu yang disebut polisi sebagai “kecelakaan”.
Dokter menemukan kerusakan limpa dan pendarahan hebat hingga diputuskan butuh tindakan operasi. Namun saat setelah operasi, sang ibu sempat mendengar putranya mengigau berulang kali, memohon: “Ampun, pak, tolong, pak, jangan pukuli saya lagi.”
Tak lama kemudian, pukul 15.30 WIB, Iko dinyatakan meninggal dunia. Selain duka, keluarga jelas penuh tanda tanya.
Kecurigaan semakin menguat setelah foto jenazah beredar menunjukkan luka sobek di bibir dan lebam pada wajah, berbeda dari gambaran umum kecelakaan lalu lintas.
Barang pribadi Iko seperti tas ransel, telepon genggam, hingga jas almamater, juga belum dikembalikan. Baju seragam organisasi kampus yang dikenakannya justru diterima keluarga dalam kondisi robek.
Selain itu, keluarga mempertanyakan jeda waktu panjang antara dugaan kecelakaan (02.30 WIB) hingga dibawa ke rumah sakit (11.00 WIB), serta alasan mengapa korban diantar oleh kendaraan Brimob, bukan ambulans atau polisi lalu lintas.
“Kasus ini penuh tanda tanya. Kami masih mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi, termasuk teman-teman korban yang kini mengalami trauma,” ujar Ady Putra Cesario dari Pusat Bantuan Hukum Ikatan Alumni FH Unnes (PBH IKA).
Tragedi Iko menambah daftar panjang mahasiswa yang meregang nyawa dalam konteks aksi protes dan dinamika politik kampus. Represi aparat yang berujung pada kematian bukan fenomena baru di Indonesia.
Naufal Sebastian, rekan alumni, menegaskan bahwa Iko terakhir kali terlihat bersama teman-temannya untuk menjemput mahasiswa yang ditahan pasca-aksi demonstrasi di Polda Jateng. “Ada kaitan langsung dengan situasi pasca-unjuk rasa, ini yang tidak boleh diabaikan,” katanya.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan dan meminta keluarga membuat laporan resmi. Namun, pernyataan tersebut belum menjawab pertanyaan krusial soal penyebab kematian dan dugaan kekerasan.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
