
Ilustrasi Alasan Psikologis Kenapa Orang Bisa Lebih Dekat ke Teman tapi Dingin ke Keluarga Sejak Kecil (freepik)
JawaPos.com - Setiap orang punya cara berbeda dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Ada yang hangat dan terbuka pada teman, tapi justru bersikap dingin atau menjaga jarak dengan keluarga sendiri.
Dari luar, ini mungkin terlihat aneh—bukankah seharusnya kita lebih dekat dengan orang yang sudah bersama kita sejak lahir?
Namun, hubungan seseorang dengan keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh kepribadian.
Pengalaman masa kecil memiliki dampak besar pada bagaimana seseorang membangun koneksi emosional.
Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal memiliki pola seperti ini, bisa jadi ada pengalaman masa kecil tertentu yang membentuk sikap tersebut.
Dilansir dari laman Geediting, Sabtu (08/03), berikut adalah tujuh pengalaman masa kecil yang bisa menyebabkan seseorang lebih hangat dengan teman dibanding dengan keluarganya:
Anak-anak belajar memahami dan mengelola emosi mereka dari keluarga. Tapi jika sejak kecil mereka sering diberi respons negatif saat menunjukkan perasaan—misalnya disuruh berhenti menangis atau dianggap lemah saat sedih—mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa mengekspresikan emosi itu tidak aman.
Di sisi lain, hubungan pertemanan memberikan ruang lebih bebas untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi. Jadi, orang-orang yang mengalami ini cenderung mencari koneksi emosional yang lebih aman bersama teman daripada keluarga.
Jika seseorang tumbuh dalam keluarga yang memberikan cinta dengan syarat—misalnya, hanya mendapat pujian atau perhatian ketika meraih prestasi—mereka bisa belajar bahwa kasih sayang bukan sesuatu yang diberikan dengan tulus, melainkan harus "diperoleh".
Sebaliknya, dengan teman, mereka merasa diterima apa adanya tanpa harus membuktikan diri. Inilah yang membuat mereka lebih nyaman menunjukkan sisi hangat dan tulus kepada teman dibandingkan keluarga.
Beberapa anak tidak mendapatkan kasih sayang dan dukungan emosional dari orang tua, malah harus berperan sebagai "orang tua" bagi mereka. Mereka bisa dipaksa untuk menenangkan orang tua yang sedang marah, menjadi pendengar masalah keluarga, atau bahkan harus mengambil tanggung jawab yang seharusnya bukan tugas mereka.
Akibatnya, menunjukkan kehangatan di dalam keluarga bisa terasa melelahkan karena mengingatkan mereka pada tanggung jawab emosional yang berat. Sementara itu, dengan teman, interaksi terasa lebih ringan dan tidak membebani.
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi anak selain merasa bahwa mereka tidak cukup baik di mata keluarganya. Jika sejak kecil seseorang sering dibandingkan dengan saudara atau anak lain—misalnya dianggap kurang pintar, kurang sopan, atau kurang berprestasi—hal ini bisa menimbulkan luka batin yang membuat mereka menarik diri dari keluarga.
Di lingkungan pertemanan, mereka merasa lebih diterima tanpa harus selalu membuktikan diri. Ini membuat mereka lebih nyaman membuka diri dan menunjukkan rasa sayang pada teman dibandingkan keluarga.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
