Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 April 2025 | 17.04 WIB

7 Hal yang Gemar Dipamerkan di Medsos oleh Mereka yang Berpura-pura Kaya Menurut Psikologi, Salah Satunya Barang-barang Mewah

perilaku orang pura-pura kaya. (Freepik)

JawaPos.com - Media sosial telah menjadi panggung bagi banyak orang untuk menampilkan citra diri ideal mereka. Di antara berbagai persona yang ditampilkan, ada satu yang cukup menarik perhatian: individu yang gemar memamerkan kekayaan palsu. Menurut psikologi, ada beberapa hal spesifik yang sering diposting oleh orang-orang yang berpura-pura kaya di media sosial. Perilaku ini ternyata memiliki akar psikologis yang mendalam, dikutip dari Global English Editing Jumat (4/4).

1. Barang-Barang Mewah: Simbol Status yang Dipamerkan Secara Berlebihan

Mari kita mulai dengan hal yang paling jelas terlihat, yaitu barang-barang mewah. Entah itu pakaian desainer, mobil mewah, atau gadget kelas atas, postingan tentang barang-barang ini seringkali mendominasi akun media sosial mereka. Jika seseorang terus-menerus memamerkan tas Gucci terbaru atau mobil Porsche keluaran terbaru, ini bisa menjadi pertanda bahwa mereka sedang berusaha menampilkan citra kekayaan tertentu. Namun, perlu diingat bahwa kekayaan sejati seringkali tidak perlu dipamerkan.

Pameran barang mewah ini menjadi cara untuk menciptakan ilusi kekayaan tanpa benar-benar harus membuktikannya. Mereka berharap pengikut media sosial mereka terkesan dan percaya bahwa mereka kaya. Padahal, fokus yang berlebihan pada materi seringkali justru menandakan adanya kekurangan atau ketidakpercayaan diri.

2. Liburan Eksotis: Upaya Menunjukkan Kemampuan Finansial Tinggi

Hal lain yang mungkin sering Anda lihat adalah postingan tentang liburan eksotis. Foto-foto pantai berpasir putih, jet pribadi, dan hotel bintang lima menjadi pemandangan yang lazim. Saya ingat seorang teman yang selalu berbagi foto "liburannya" di lokasi-lokasi mewah. Dengan memposting tentang liburan eksotis, mereka mencoba mengatakan: "Saya mampu bepergian ke tempat-tempat mewah ini, jadi saya pasti kaya."

Orang kaya sungguhan mungkin terlalu sibuk menikmati liburan mereka hingga tidak sempat memposting setiap detailnya di media sosial. Liburan bagi mereka adalah tentang relaksasi dan pengalaman, bukan sekadar konten media sosial. Pamer liburan eksotis lebih sering dilakukan oleh mereka yang ingin terlihat kaya daripada mereka yang benar-benar kaya.

3. Santapan Mewah: Mengirim Pesan Terselubung tentang Kemewahan

Pernahkah Anda melihat unggahan foto makanan lezat yang ditata dengan indah, ditemani sebotol anggur terbaik? Ya, kita sedang berbicara tentang pengalaman bersantap mewah. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menikmati makanan enak dan berbagi kebahagiaan itu dengan teman-teman. Namun, individu yang berpura-pura kaya sering menggunakan ini sebagai alat lain untuk memalsukan kekayaan.

Pesan terselubung yang ingin disampaikan adalah: "Saya makan di restoran kelas atas, jadi saya pasti kaya." Akan tetapi, kekayaan sejati tidak selalu berarti terus-menerus menikmati kemewahan. Banyak individu yang benar-benar kaya memahami pentingnya keseimbangan dan sama nyamannya menikmati masakan rumahan atau makan di warung lokal. Fokus mereka bukan pada pamer, melainkan pada kualitas makanan dan kebersamaan.

4. Label Desainer: Berusaha Menjadi Bagian dari Kelompok Eksklusif

Selanjutnya, mari kita bahas tentang label desainer. Kita semua pernah melihat postingan di mana setiap barang yang terlihat dalam gambar berteriak nama merek. Mulai dari tas Louis Vuitton yang tergeletak begitu saja di tempat tidur hingga sepatu kets Gucci yang diposisikan sempurna untuk kamera. Ini adalah perilaku umum lain yang terlihat di antara mereka yang ingin tampak kaya.

Dengan mengasosiasikan diri mereka dengan merek-merek kelas atas, mereka berharap dianggap sebagai bagian dari kelompok 'kaya' yang eksklusif. Namun, orang kaya sungguhan seringkali tidak merasa perlu untuk memamerkan barang-barang desainer mereka. Mereka membelinya untuk kualitas dan kesenangan yang mereka bawa, bukan untuk ditayangkan kepada dunia. Mereka lebih fokus pada nilai intrinsik daripada nilai simbolis.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore