Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 April 2025 | 00.05 WIB

Orang-Orang yang Kesulitan Meminta Dukungan Emosional Biasanya Mengalami Salah Satu dari 7 Perilaku Ini di Masa Kecil Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang kesulitan meminta dukungan emosional - Image

Ilustrasi seseorang yang kesulitan meminta dukungan emosional

JawaPos.com - Dalam kehidupan dewasa, banyak orang tampaknya memiliki satu kesamaan yang menyakitkan: mereka sulit untuk meminta bantuan emosional ketika sedang terpuruk.

Meskipun mereka tampak mandiri, kuat, atau bahkan “baik-baik saja” di permukaan, sering kali ada badai emosional yang mereka tanggung sendirian.

Psikologi modern menunjukkan bahwa kesulitan ini tidak muncul begitu saja—banyak dari kita membawa luka emosional yang berasal dari masa kanak-kanak.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (20/4) terdapat tujuh perilaku atau pengalaman masa kecil yang menurut psikolog sangat mungkin menjadi akar dari kesulitan seseorang dalam mencari atau menerima dukungan emosional di masa dewasa:

1. Dibesarkan dalam Lingkungan yang Mengutamakan Ketangguhan daripada Kepekaan

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganggap ekspresi emosi sebagai tanda kelemahan, atau selalu menekankan untuk “tangguh dan tidak cengeng,” tumbuh menjadi individu yang merasa malu saat menunjukkan perasaan.

Dalam lingkungan seperti ini, permintaan bantuan emosional dianggap sebagai kelemahan, bukan kebutuhan manusiawi.

Akibatnya, mereka belajar untuk menekan emosi dan membungkam kebutuhan batin mereka sendiri.

2. Orang Tua yang Emosional Tidak Tersedia atau Tidak Responsif

Beberapa anak tumbuh dengan orang tua yang secara fisik hadir tetapi secara emosional absen.

Ketika anak menunjukkan kesedihan atau ketakutan, respons yang mereka terima mungkin dingin, datar, atau bahkan diabaikan.

Anak-anak yang mengalami ini belajar bahwa berbagi perasaan tidak membawa kelegaan—hanya kekecewaan.

Pola ini bertahan hingga dewasa, membuat mereka merasa sia-sia atau takut ketika mencoba membuka diri.

3. Menjadi “Pengasuh Kecil” dalam Keluarga

Sebagian anak dipaksa untuk tumbuh lebih cepat karena harus merawat orang tua atau saudara yang lemah, tidak stabil secara emosional, atau menghadapi masalah seperti kecanduan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore