Ilustrasi cinta dan benci (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Cinta dan benci adalah dua emosi yang sangat kuat dan seringkali kita anggap tidak bisa hadir bersamaan. Tapi bagaimana jika sebenarnya keduanya bisa, dan sering kali memang muncul dalam satu hubungan? Psikologi membuktikan bahwa tarik-ulur emosi ini jauh lebih umum terjadi daripada yang kita kira.
Bahkan ada tanda-tanda yang cukup jelas untuk mengenali paradoks ini. Dilansir dari laman DMNews, berikut adalah tanda-tanda kamu mencintai dan membenci seseorang di waktu bersamaan, menurut psikologi.
1. Emosi yang Naik Turun seperti Roller Coaster
Pernah merasakan momen ketika kamu begitu mencintai seseorang, lalu tiba-tiba merasa muak hanya dengan kehadirannya? Nah, perubahan emosi yang drastis ini adalah tanda pertama. Lonjakan antara cinta dan kebencian ini adalah indikasi jelas dari perasaan ambivalen.
Sebenarnya wajar saja jika kita memiliki berbagai macam emosi terhadap orang yang kita cintai. Namun ketika perasaan itu terus bergeser antara kasih sayang dan rasa jengkel atau benci yang intens, itu menandakan bahwa kamu sedang mengalami cinta dan benci sekaligus.
Ingat, cinta dan benci bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Keduanya bisa ada bersamaan, terutama dalam hubungan yang kompleks, menjadikannya seperti teka-teki psikologis yang menarik untuk dipahami.
2. Kamu Terus-menerus Ingin Mengubah Dirinya
Mungkin kamu pernah mengalami mencintai seseorang tapi tidak bisa menahan keinginan untuk mengubah beberapa hal tentang dirinya. Seperti kamu menyukai sebuah lukisan, tapi berharap si pelukis memakai warna biru yang berbeda. Kamu tetap mengagumi lukisan itu, tapi tetap merasa akan lebih baik jika ada sedikit perubahan.
Psikolog ternama Carl Rogers pernah berkata, "Paradoks yang menarik adalah bahwa ketika aku menerima dirimu apa adanya, justru saat itulah kamu bisa berubah." Namun dalam dinamika cinta-benci, menerima apa adanya bisa jadi hal yang paling sulit.
Mencintai berarti menerima. Tapi kalau kamu terus berharap pasanganmu berubah, itu adalah tanda bahwa kamu menyimpan cinta sekaligus rasa frustrasi atau kecewa. Kamu mencintai dirinya, tapi tidak menyukai beberapa sikap atau kebiasaannya dan dari situlah rasa benci bisa muncul.
3. Menggunakan Silent Treatment
Pernah merasa diam saja, atau justru mendapat perlakuan diam dalam hubunganmu? Ini adalah bentuk penarikan diri secara emosional, yang dalam psikologi dianggap sebagai cerminan dari cinta dan benci yang berbarengan.
Psikolog hubungan John Gottman menyebut silent treatment sebagai bentuk kekerasan emosional. Biasanya, kita tetap mencintai seseorang terlalu dalam untuk meninggalkannya, tapi juga terlalu marah atau sakit hati untuk berbicara. Karena itulah kita memilih diam sebagai cara untuk melindungi diri dari emosi yang terlalu kuat.
Jadi, ketika kamu atau pasanganmu mendiamkan satu sama lain, bukan berarti tidak peduli. Justru karena terlalu peduli tapi bingung bagaimana mengelola emosinya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
