
Musim dingin sering kali memicu perasaan sedih dan kehilangan motivasi, terutama pada wanita. Freepik
JawaPos.com - Ketika suhu mulai turun dan hari-hari semakin pendek, banyak orang mengalami perubahan suasana hati.
Namun, wanita secara signifikan lebih rentan terhadap perasaan sedih atau bahkan depresi musiman. Apa penyebab di balik kecenderungan ini?
Dilansir dari laman Your Tango, artikel ini akan mengulas berbagai faktor dari sisi sains, hormon, dan gaya hidup yang menjelaskan fenomena ini, serta memberikan strategi praktis untuk menjaga kesehatan mental di musim dingin.
SAD adalah bentuk depresi yang dipicu oleh perubahan musim, terutama saat musim dingin. Gejalanya meliputi:
Kesedihan berkepanjangan
Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasa disukai
Kesulitan bangun pagi
Kelelahan
Nafsu makan meningkat (terutama pada makanan tinggi karbohidrat)
Menurut penelitian, wanita memiliki kemungkinan hingga 50% lebih besar mengalami gejala SAD dibandingkan pria. Mengapa?
Wanita mengalami perubahan hormonal yang lebih kompleks dibanding pria. Estrogen dan progesteron dapat memengaruhi neurotransmitter di otak, seperti serotonin dan dopamin, yang bertanggung jawab atas suasana hati dan kebahagiaan. Saat hormon-hormon ini turun — misalnya menjelang menstruasi atau menopause — maka sensitivitas terhadap SAD meningkat.
Studi menunjukkan bahwa wanita lebih sensitif terhadap kurangnya paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari yang rendah menyebabkan produksi melatonin (hormon tidur) meningkat dan serotonin (hormon suasana hati) menurun, membuat wanita lebih mudah merasa lesu dan sedih.
Wanita sering kali memiliki tanggung jawab ganda — baik sebagai pekerja maupun pengasuh keluarga. Saat musim dingin tiba, meningkatnya tekanan sosial dan menurunnya energi membuat mereka lebih rentan mengalami stres dan kelelahan emosional.
Musim dingin juga dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran akan penampilan. Ketika lebih sulit berolahraga atau mengatur pola makan, wanita kerap merasa frustrasi dengan perubahan berat badan, yang berkontribusi pada suasana hati negatif.
Menurut studi, sekitar 33% wanita merespons perubahan suasana hati dengan makan berlebihan, terutama makanan tinggi gula dan karbohidrat. Ini menciptakan siklus emosional:

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
