
Ilustrasi seseorang yang tak suka memposting foto di media sosial. (Freepik)
JawaPos.com – Di tengah dunia yang terobsesi pada selfie dan pencitraan, ada sebagian orang yang memilih untuk tidak ikut dalam arus itu.
Mereka jarang bahkan tidak pernah memposting foto diri di media sosial—bukan karena tidak percaya diri, tetapi karena alasan psikologis yang jauh lebih dalam.
Menurut teori psikologi mendalam (depth psychology) yang dikembangkan oleh Carl Jung, keputusan untuk tidak menampilkan diri di ruang digital dapat mencerminkan pergulatan batin seseorang dalam mencari jati diri yang autentik di tengah budaya yang haus akan pengakuan.
Fenomena ini bukan sekadar tentang privasi, melainkan tentang bagaimana seseorang menegosiasikan identitasnya di hadapan dunia yang terus menuntut untuk “terlihat.”
Dalam pandangan Jung, keengganan untuk tampil bukan bentuk penolakan sosial semata, melainkan ekspresi dari proses psikologis yang kompleks—antara keinginan untuk dilihat dan kebutuhan untuk tetap setia pada diri sendiri.
Dilansir dari kanal YouTube Depth Psychology, berikut lima alasan psikologis tersembunyi menurut teori Carl Jung yang menjelaskan mengapa sebagian orang lebih memilih tidak memposting foto mereka di media sosial.
1. Bentuk Pemberontakan terhadap ‘Topeng Sosial’
Carl Jung menyebut setiap individu memiliki persona, atau topeng sosial—citra diri yang ditampilkan agar diterima lingkungan. Di era media sosial, persona ini tampil dalam bentuk unggahan dan foto yang telah disaring sedemikian rupa.
Ketika seseorang menolak ikut serta dalam proses itu, mereka sebenarnya sedang melakukan pemberontakan internal terhadap tekanan kolektif untuk selalu terlihat sempurna.
Pilihan untuk tidak memposting menjadi simbol perlawanan terhadap dunia yang menilai dari tampilan luar, bukan kedalaman diri.
2. Tanda Pergeseran dari Validasi Eksternal ke Kesadaran Diri
Keengganan memposting foto juga bisa menandakan pergeseran dari kebutuhan akan pengakuan eksternal menuju pencarian makna internal.
Jung menilai, individu yang mulai merasa jenuh dengan ‘tontonan’ digital sedang memasuki tahap kesadaran baru—di mana perhatian tidak lagi diarahkan pada pandangan orang lain, melainkan pada pemahaman terhadap diri sendiri.
Tindakan ‘tidak tampil’ di media sosial menjadi semacam batas psikologis untuk menjaga ruang batin dari sorotan publik.
3. Upaya Menyembuhkan ‘Diri yang Terpecah’
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022