Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Maret 2026 | 19.25 WIB

9 Perilaku yang Dilakukan Orang Ketika Mereka Perlahan Kehilangan Jati Diri Menurut Psikologi

seseorang yang perlahan kehilangan jati diri (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang perlahan kehilangan jati diri (Freepik/freepik)


JawaPos.com - Kehilangan jati diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya sering kali berjalan perlahan, nyaris tak terasa. Seseorang mungkin tetap berfungsi secara sosial, tetap bekerja, tetap tersenyum—namun di dalam dirinya muncul kekosongan, kebingungan, dan perasaan tidak lagi mengenali siapa dirinya yang sebenarnya.

Dalam psikologi perkembangan, konsep jati diri banyak dibahas oleh tokoh seperti Erik Erikson yang memperkenalkan tahap identity vs role confusion. Selain itu, krisis makna hidup juga banyak dikaji oleh Viktor Frankl yang menekankan pentingnya makna sebagai fondasi identitas manusia.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 perilaku yang sering muncul ketika seseorang perlahan kehilangan jati diri menurut perspektif psikologi:

1. Terlalu Bergantung pada Validasi Orang Lain

Ketika seseorang tidak lagi yakin dengan dirinya sendiri, ia mulai mencari cermin dari luar. Keputusan, penampilan, bahkan opini pribadi menjadi sangat dipengaruhi oleh komentar orang lain.

Ia merasa baik hanya ketika dipuji, dan merasa hancur ketika dikritik. Validasi eksternal menjadi satu-satunya alat ukur harga diri.

2. Sering Mengubah Kepribadian Sesuai Lingkungan

Orang yang kehilangan jati diri cenderung menjadi “bunglon sosial.” Di satu kelompok ia sangat A, di kelompok lain ia sangat B.

Adaptasi sosial itu sehat, tetapi jika perubahan tersebut membuat seseorang tidak lagi tahu mana dirinya yang autentik, ini bisa menjadi tanda krisis identitas.

3. Kehilangan Minat pada Hal-Hal yang Dulu Dicintai

Hobi, passion, atau aktivitas yang dulu memberi energi tiba-tiba terasa hambar. Ini sering dikaitkan dengan kondisi anhedonia, yaitu hilangnya kemampuan merasakan kesenangan.

Ketika seseorang tak lagi terhubung dengan apa yang dulu membuatnya merasa hidup, ia mulai kehilangan bagian penting dari identitasnya.

4. Sulit Membuat Keputusan Sederhana

Kebingungan identitas membuat seseorang tidak memiliki “kompas internal.” Bahkan keputusan kecil terasa melelahkan.

Ia sering berpikir berlebihan karena tidak lagi yakin pada nilai dan prioritas pribadinya.

5. Merasa Kosong Meski Hidup Terlihat Baik-Baik Saja

Dari luar, hidupnya mungkin stabil. Namun di dalam, ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Konsep kekosongan eksistensial ini banyak dibahas dalam psikologi humanistik, termasuk oleh Abraham Maslow yang menekankan pentingnya aktualisasi diri sebagai kebutuhan tertinggi manusia.

6. Menghindari Refleksi Diri

Orang yang kehilangan jati diri sering kali menghindari keheningan. Ia terus menyibukkan diri, tenggelam dalam media sosial, pekerjaan, atau distraksi lainnya.

Keheningan terasa menakutkan karena di situlah pertanyaan tentang “siapa saya sebenarnya?” mulai muncul.

7. Merasa Hidup Seperti “Menjalani Peran”

Alih-alih merasa menjadi diri sendiri, ia merasa sedang memainkan peran: sebagai anak yang baik, pasangan yang ideal, atau pekerja yang sukses.

Namun semua itu terasa seperti topeng. Ia mungkin berhasil secara sosial, tetapi tidak merasa autentik secara emosional.

8. Takut Mengecewakan Orang Lain Secara Berlebihan

Ketakutan ini membuat seseorang mengorbankan nilai, batasan, dan kebutuhan pribadinya.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore